Selasa, 18 November 2014

Mendesain SIM Keperawatan (bag 4)

Penggunaan Bahasa Standar
Untuk menyusun database yang baik dalam SIM Keperawatan, bahasa standar menjadi sesuatu yang wajib adanya. Karena tanpa bahasa standar, sistem tak akan mampu menghasilkan apa-apa, kecuali hanya berupa transaksi elektronik atau memindahkan catatan manual ke dalam komputer. Laporan-laporan berupa evidance base keperawatan tak akan bisa dihasilkan dari sistem yang dibuat.
Permasalahan mendasar keperawatan di Indonesia adalah belum ada satupun perguruan tinggi perawat atau lembaga pendidikan perawat yang memiliki mata kuliah (MK) “standar bahasa keperawatan”. Bahkan organisasi profesi perawat di Indonesia juga belum menghasilkan standar bahasa keperawatan ini. Persoalan mendasar inilah yang mempersulit untuk pengembangan SIM Keperawatan.
Seperti SIM Keperawatan yang kami susun, standar bahasa yang kami gunakan juga bukan bahasa baku yang telah disepakati oleh organisasi profesi perawat di Indonesia. Kami menggunakan referensi utama dalam penyusunan database menggunakan NANDA, NOC dan NIC. Itupun butuh penyesuaian di sana-sini. Maka yang belum memahami penggunaan bahasa standar ini, tentu tidak bisa menggunakan SIM Keperawatan yang kami susun.

Tentang bahasa standar ini, masih ada referensi lain yang bisa dijadikan sebagai rujukan, yaitu ICNP (International Clasification Nursing Practice). Hanya saja konsep ICNP tidak popular di Indonesia.
Mengapa bahasa standar menjadi penting dalam mendesain SIM Keperawatan?

Sebagai contoh begini. Ketika kita membutuhkan laporan masalah yang paling banyak muncul dalam kurun satu bulan perawatan di sebuah rumah sakit yang telah menggunakan SIM Keperawatan, maka sistem tentu akan bekerja melakukan indek terhadap seluruh transaksi dalam satu bulan. Bila database dalam sistem kita tidak standar, maka masalah yang sama bisa di-indek berbeda oleh sistem.

Contoh : untuk masalah keperawatan dengan pasien operasi, karena tidak menggunakan bahasa standar mungkin ada yang menyebut “gangguan rasa nyaman” ada yang mengatakan “gangguan rasa nyaman nyeri” ada yang mengatakan “nyeri akut” dan lain-lain. Maka masalah yang sama akan diindek oleh sistem dengan tiga variasi di atas. Padahal sama-sama masalah nyeri pasca operasi. Keadaan ini akan menjadikan data menjadi tidak valid, dan sistem tidak bisa melakukan accounting secara benar.

Bagitupun di implementasi juga demikian. Kita masih belum memiliki bahasa standar untuk menunjukan aktifitas perawatan yang sangat banyak. Dokumen asuhan keperawatan yang populer di Indonesia masih menuliskan aktifitas yang dilakukan, bukan label dari aktifitas. Padahal ada ribuan aktifitas perawatan yang dimiliki, maka bagaimana sistem akan melakukan indek bila aktifitas yang sama dtulis dalam bahasa yang berbeda.

Maka syarat penyusunan SIM Keperawatan agar mampu memudahkan pekerjaan perawat adalah dengan menggunakan bahasa standar keperawatan yang sering saya sebut sebagai SNL (Standar Nursing Language).

Sumber : http://nursinginformatic.wordpress.com/2012/06/29/mendesain-sim-keperawatan-bag-4/

Tidak ada komentar:
Write komentar