Selasa, 18 November 2014

Mendesain SIM Keperawatan (bag 1)

Gravea & Cococran,1989 mendefinisikan Sistem Informasi Keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu  keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan.
Dari pengertian ini menjadi cukup jelas bagi kita sebagai rujukan atau panduan dalam penyusunan SIM Keperawatan. Setidaknya ada tiga ilmu yang dikombinasikan, yaitu ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan. Apakah dengan ketiga ilmu itu dapat dikuasi oleh satu orang, jawabnya bisa ya, bisa juga tidak. Kalau toh bisa maka sangat sulit untuk mencapai pengembangan ke arah yang sempurna. Kalau jawabnya tidak, maka perlu dicarikan solusi agar pengembangan sistem informasi keperawatan mengarah kesempurnaan.
Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sebuah team dengan latar belakang keilmuan masing-masing, yaitu satu atau dua orang menguasai ilmu komputer (progremer), satu atau dua orang menguasai ilmu informasi dan satu atau dua orang menguasai ilmu keperawatan. Team inilah yang diharapkan dapat menyusun SIM Keperawatan dengan baik.
Aspek berikutnya adalah bahwa Sistem Informasi Keperawatan disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan. Artinya SIM Keperawatan disusun untuk memudahkan pelaksanaan manajemen asuhan keperawatan. Dan tujuan ini adalah tujuan paling dasar dalam pemanfaatan teknologi informasi/komputer. Sehingga, pemanfaatan teknologi informasi/komputer harus menjamin sebuah pekerjaan menjadi lebih mudah, bukan malah menjadi sulit. Dengan tujuan ini, maka sistem yang telah disusun sebagus apapun, haruslah teruji di lapangan sampai user memberikan tanggapan “sistem ini mudah diaplikasikan” atau dikenal dengan user friendly.
Hal berikutnya menurut pengertian di atas, aplikasi/system harus mampu memberikan informasi yang bermanfaat bagi manajemen. Mengacu pada pengertian ini, maka SIM Keperawatan bukan hanya sekedar mengganti dokumen manual menjadi terkomputerisasi, tetapi lebih dari itu. Sebagai sebuah contoh, system harus mampu memfasilitasi untuk memunculkan evidance base keperawatan. Mampu menampilkan laporan-laporan yang dapat dijadikan rujukan akontabilitas perawat, kinerja perawat, performa perawat, kompetensi perawat dll. Dengan informasi yang didapatkan itu, diharapkan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh manajemen keperawatan memiliki dasar yang kuat karena berdasar data yang ada di lapangan.
Contoh kasus :
Dalam SIM Keperawatan didapatkan data bahwa selama kurun waktu satu tahun (2011), didapatkan masalah keperawatan tertinggi yang didapatkan di sebuah rumah sakit adalah nyeri akut sejumlah 32.111 pasien. Dengan data ini, maka manajemen keperawatan dapat mengeluarkan kebijakan “seluruh perawat harus tahu dan paham masalah nyeri akut beserta intervensi untuk nyeri akut baik mandiri maupun kolaborasi”.
Data ini pula yang dapat dijadkan sebagai acuan untuk kompetensi perawat. Perawat harus mendapatkan CBT (Competence Base Training) tentang manajemen nyeri, tindakan perawat yang mendukung manajemen nyeri, therapi farmakologi untuk nyeri dll. Setelah semua diberikan dalam CBT, maka lakukan asesmen kompetensi kepada seluruh perawat tentang manajemen nyeri.
SIM Keperawatan seperti inilah yang kami anggap sebagai sesuatu yang ideal menurut pengertian di atas. Bahkan bukan hanya itu, pengertian di atas juga mempersaratkan bahwa pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan dapat dikembangkan melalui sistem ini. Dengan evidance base yang dihasilkan, sangat mungkin akan memicu penelitian berikutnya, sehingga sistem informasi memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan perawat.

sumber : http://nursinginformatic.wordpress.com/2012/06/10/mendesain-sim-keperawatan/

Tidak ada komentar:
Write komentar