Kamis, 20 November 2014

E-Medical Record Adalah Dasar E-Health

Menurut Suryo Suwignjo, presiden direktur PT IBM Indonesia, implementasi e-medical record adalah dasar dari sistem e-health. “E-medical record ini memang dasar dari e-health, dan yang terpenting, data medis itu bisa dipertukarkan, bukan sekadar disimpan,” kata Suryo. Ia menambahkan, salah satu hal yang membuat layanan kesehatan di luar negeri menjadi lebih baik ialah implementasi e-health. Langkah ini dinilai mampu mereduksi kesalahan manusia dalam layanan kesehatan.

Perkembangan negara-negara maju dalam penerapan e-health sudah advance. Ia mencontohkan penggunaan chip yang ditanam pada tubuh pasien kritis. Chip ini berisi data rekam medik dirinya yang bisa diakses sejumlah rumah sakit di negara tersebut. Dampaknya, saat pasien dalam keadaan kritis, maka ia bisa ditangani secara optimal karena pihak medis bisa menjadikan data medik yang tersimpan dalam chip tersebut sebagai panduan tindakan. 

Di negara maju, imbuh Suryo, inovasi e-health sudah berkembang pesat. “Misalnya, ketika pasien berada di ambulans dan data yang diperoleh selama dalam perjalanan akan bisa didapat oleh paramedik rumah sakit tujuan secara real-time,” kata Suryo. Teknologi ini memungkinkan pasien ditangani lebih cepat setibanya di rumah sakit. 

Ke depan, Suryo berharap implementasi e-health di Indonesia dapat lebih optimal dengan melibatkan tiga unsur utama: asuransi, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah. Selama ini, menurut Suryo, baik pihak swasta maupun pemerintah berjalan sendiri-sendiri dan kurang sinergi. “Ke depan, saya berharap medical record bisa saling tukar antar-rumah sakit,” ujarnya. 

Bagi korporasi, langkah ini juga dianggap efektif karena mampu meningkatkan efisiensi dari penggunaan alat-alat kesehatan yang terbilang mahal. Setiap rumah sakit bisa saling berbagi fasilitas sehingga pendapatannya dapat meningkat. “Setiap rumah sakit tidak perlu berlomba-lomba membeli perangkat kesehatan yang mahal, asal mereka saling terkoneksi dan bersinergi itu bisa sangat baik,” cetus Suryo. Jika itu tidak dilakukan, Suryo justru khawatir rumah sakit akan membebani diri mereka sendiri dan, mau tidak mau, pasienlah yang menjadi korbannya. 

Tantangan lain bagi rumah sakit ialah mengimplementasikan kebijakan TI untuk rumah sakit. Maklum, urusan TI di rumah sakit saat ini masih terkendala oleh besarnya anggaran. RS Pondok Indah, misalnya, setidaknya menyisihkan 15%‒20% dari pendapatan korporasi yang besarnya sekitar Rp400 miliar per tahun untuk operasional TI. “Untuk bujet per tahunnya sekitar 20% dari pendapatan perusahaan, sedangkan investasi awalnya lebih dari itu,” kata Tavri. Meski begitu, Suryo optimistis peluang perbaikan layanan kesehatan Indonesia masih terbuka lebar seiring tuntutan dalam meningkatkan daya saing rumah sakit

sumber : http://megah.wordpress.com/2011/09/29/e-medical-record-adalah-dasar-e-health/

Tidak ada komentar:
Write komentar