Selasa, 18 November 2014

Diagnosis Related Groups (DRG)

Mahalnya biaya kesehatan dan tidak seragamnya/tidak menentunya prosedur dan biaya pelayanan kesehatan
untuk kasus penyakit akut yang sejenis di pusat pelayanan kesehatan terutama rumah sakit (RS) sering dihubungkan dengan perilaku dokter yang membebani pembayaran pasien atas obat/farmasi dan tindakan (bedah, diagnostik/terapi alat-alat canggih) yang sebenarnya tidak perlu.
Di beberapa RS luar negeri kita dapat mengetahui lebih pasti berapa biaya yang akan kita bayar jika kita didiagnosis penyakit tertentu sesuai standar yang ada, bahkan beberapa biaya operasi ditengarai lebih murah.
Dengan menggunakan standar (saat ini) klasifikasi ICD 10 untuk penyakit, dan ICD 9-CM untuk prosedur tindakan, serta data-data demografis dari rekam medis, kemudian dapat ditentukan biaya clinical costing (untuk mengetahui rata-rata tarif pelayanan rawat inap RS; kini banyak tersedia perangkat lunak untuk menghitungnya), perbandingan model DRG negara lain, maka dapatlah sekiranya disusun suatu kode standar tertentu yang menjadi sistem pembayaran RS, sering disebut Diagnosis Related Groups (DRG).
Jadi pasien dengan penyakit akut tertentu, berobat di seluruh RS di Indonesia, jika memerlukan pembedahan atau tindakan tertentu, akan dikenakan prosedur dan beban biaya yang sama karena kelompok-kelompok pasien tersebut memiliki kondisi klinis yang sama dan menggunakan sumber-sumber (pengobatan) yang sama (case-mix).
Hal ini tentu akan mendorong meningkatkan pemahaman masyarakat/konsumen atas pelayanan RS dan paket-paketnya. Standardisasi prosedur dan pengobatan akan meningkatkan pelayanan pasien. Dari segi biaya, tentunya akan lebih efisien serta memudahkan pihak asuransi dan RS dalam pembiayaan dan administrasinya. Informasi komparatif pun tersedia antar RS.
Untuk mengembangkan DRG Indonesia (ID-DRG?), dibutuhkan Sistem Informasi RS (SIRS)/kelengkapan data rekam medis yang memadai, pemantauan kualitas pelayanan melalui clinical pathway, pemantauan biaya melalui clinical costing, penetapan standar kodifikasi dan perangkat lunak yang digunakan. Jika mengadopsi sistem negara lain sebaiknya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
Tantangan mungkin datang dari rekan-rekan dokter yang terkesan kreativitas atau seninya terbatasi atau bahkan pihak RS yang berisiko menderita kerugian.

sumber : http://daniiswara.wordpress.com/2006/07/13/health-informatics-diagnosis-related-groups-drg/#more-86

Tidak ada komentar:
Write komentar