Kamis, 20 November 2014

HOSPITAL INFORMATION SYSTEM

A.    Pengertian
HIS (Hospital Information System) merupakan sebuah sistem informasi yang digunakan untuk Rumah Sakit. Dimana dalam sistem informasi ini memungkinkan aliran data dari sebuah rumah sakit bisa dilakukan secara elektronis, sehingga pelayanan kepada pasien dapat dilakukan dengan lebih cepat, akurat dan transparan yang pada akhirnya bisa memberikan kepuasan kepada pasien.
Hospital Information System meliputi setiap aspek dari administrasi ke departemen keuangan. Ini juga mencakup segala sesuatu dari pasien yang masuk dan keluar untuk tes laboratorium.
Sistem informasi rumah sakit adalah sistem yang mampu  melakukan integrasi dan komunikasi aliran informasi baik di dalam maupun di luar rumah sakit (kusumadewi, 2009). System informasi ini meliputi Sistem rekam medis elektronik, sistem informasi laboratorium, sistem informasi radiologi, sistem informasi farmasi, sistem informasi keperawatan.
Sebuah sistem informasi rumah sakit (HIS) pada dasarnya adalah sebuah sistem komputer yang dapat mengelola seluruh informasi untuk memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Sistem ini telah ada sejak mereka pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960 dan telah berevolusi dengan waktu dan modernisasi fasilitas kesehatan. Komputer tidak secepat pada masa itu dan mereka tidak mampu menyediakan informasi secara real time seperti yang mereka lakukan hari ini. Staf menggunakannya terutama untuk mengelola penagihan dan persediaan rumah sakit. Semua ini telah berubah sekarang, dan sistem rumah sakit saat ini informasi mencakup integrasi dari semua, aplikasi klinis keuangan dan administrasi. Di Amerika, pada tahun 1980an, sistem informasi Rumah Sakit berkembang pada tahap yang lebih lanjut dengan fokus pada produktivitas.
Sistem ini dilaksanakan dalam rangka untuk menghetikan sistem berbasis kertas. Dengan adanya HIS membantu menjaga informasi pasien dalam komputer sehingga mudah diakses oleh semua personel rumah sakit. Dengan menerapkan HIS Juga mampu mengenali tren yang mata manusia tidak mungkin dapat melihat melalui sistem kertas. Database yang dimasukan juga dapat lebih mudah diatur. Dan juga mengurangi kemungkinan kesalahan data rumah sakit karena semua orang dapat memahami dan membaca komputer. Sistem ini juga membantu dengan kolaborasi antara rumah sakit yang berbeda untuk mengurangi pengujian duplikat (pengandaan data).  Juga mempersingkat waktu dengan melihat data sebelumnya daripada harus menulis ulang setiap kali pasien masuk ke rumah sakit berbeda.
Sistem informasi medis sangat erat kaitannya dengan sistem informasi rumah sakit (hospital Information System atau HIS). Sistem informasi rumah sakit adalah sistem yang mampu melakukan integrasi dan komunikasi aliran informasi baik di dalam maupun di luar rumah sakit. HIS memiliki 2 fungsi utama yaitu untuk keperluan manajemen dan pengolahan data pasien. Dari sisi manajemen, HIS memiliki peranan dalam mengatur data keuangan, material dan teknis, sistem kepegawaian, pembayaran (tagihan) ke pasien, dan perencanaan strategi. Dari sisi pasien, HIS berfungsi untuk mengelola data inpatient dan outpatient serta mengelola data medis pasien yang meliputi perawatan. Diagnosis, dan terapi.
Salah satu subsistem dari HIS adalah sistem rekam medis. Perekaman data pasien mutlak diperlukan untuk menunjang proses peningkatan perawatan kesehatan terhadap pasien. Salah satu subsistem HIS adalah system  rekam  medis. Perekaman data pasien mutlak diperlukan untuk menunjang proses peningkatan perawatan kesehatan terhadap pasien. Electronic Medical Record (EMR) adalah  suatu  media elektronik yang digunakan untuk menyimpan informasi klinis. EMR digunakan untuk mengelola informasi rekam medis pasien sehingga memudahkan dalam menelusur-balik informasi, termasuk sejarah penyakit dan tindakan medis yang pernah diterima, dan menggunakannya untuk mengambil tindakan medis yang tepat.
Data atau informasi rekam medis, memiliki beberapa tipe, antara lain:
1.      Tipe data tekstual, biasanya digunakan pada saat mendeskripsikan keluhan, gejala, sejarah munculnya rasa sakit, sejarah keluarga, uji fisik atau informasi asuransi. Tipe data teks ini terkadang juga menggunakan bahasa alami, sehingga alogaritma parsing sangat dibutuhkan. Pada tipe teks dibutuhkan format standar penulisan yang bersifat formal, lengkap, universal, dan dapat diterjemahkan.
2.      Tipe grafis, biasanya digunakan pada ECG, ultrasound, atau gambar-gambar yang ditulis tangan.
3.      Tipe digital, biasanya digunakan untuk menunjukkan hasil sinar-x.
B.     Manfaat
1.      Mudah Akses ke Data Pasien untuk menghasilkan catatan bervariasi, termasuk klasifikasi berdasarkan demografi, jenis kelamin, usia, dan sebagainya. Hal ini terutama bermanfaat pada rawat jalan (rawat) titik, maka meningkatkan kesinambungan perawatan. Serta, Internet akses berbasis meningkatkan kemampuan akses jarak jauh ke data tersebut.
2.      Membantu sebagai sistem pendukung keputusan bagi pihak berwenang rumah sakit untuk mengembangkan kebijakan kesehatan yang komprehensif
3.      administrasi yang efisien dan akurat keuangan, makanan pasien, teknik distribusi, dan bantuan medis. Ini membantu untuk melihat gambar yang luas dari pertumbuhan rumah sakit
4.      Peningkatan pemantauan penggunaan obat, dan studi efektivitas. Hal ini menyebabkan pengurangan interaksi obat yang merugikan sekaligus mempromosikan pemanfaatan farmasi lebih tepat.
5.      Meningkatkan integritas informasi, mengurangi kesalahan transkripsi, dan mengurangi duplikasi entri informasi.
C.     Aplikasi: Sebuah HIS memiliki berbagai aspek didalamnya. Teknologi memungkinkan untuk informasi dalam sistem ini untuk mengalir lebih mudah dan lebih akurat. Beberapa sistem ini meliputi:
1.      Clinical Information System (CIS)
2.      Financial Information System (FIS)
3.      Laboratory Informatin System (LIS)
4.      Nursing Information System (NIS)
5.      Pharamacy Information System (PIS)
6.      Picture Archiving Commuication System (PACS)
7.      Radiology Information System (RIS
Terminologi yang terkait:
·         Clinical Information System - Kata lain untuk Health information system.
·         Electronic Medical Record - Sebuah catatan medis yang disimpan secara elektronik melalui database rumah sakit. Catatan ini dapat dilihat oleh salah satu rumah sakit di jaringan tersebut.
·         Clinical Decision Support System (CDSs) adalah program komputer yang dirancang untuk menyediakan dukungan para ahli dalam membuat keputusan klinis Mendoca (2004). Tujuan sistem ini adalah membantu para profesional di bidang kesehatan dalam menganalisis data pasien dan membuat keputusan berdasarkan diagnosis, melakukan pencegahan, dan treatment terhadap permasalahan kesehatan.
·         Personal Health record - Sebuah catatan kesehatan pribadi  merupakan rekaman yang disimpan oleh individu kesehatan seumur hidup.
·         Voice recognition software - Software yang dapat mengenali perintah suara untuk membantu dokter menulis catatan atau melakukan tugas.
·         MediSlate MCA & Sahara slate – Mirip dengan tablet PC digunakan di rumah sakit yang dirancang khusus untuk membantu tugas-tugas dokter.
MediSlate – Digunakan sebagai computer yang dapat dibawa kemana-mana.
Sumber : http://triyuni18.blogspot.com/2012/06/hospital-information-system.html

PACS dan RIS

Radiologi memberi kemampuan untuk melihat anatomi dan pathologi manusia melalui deteksi sinyal dan generasi citra. Bila dahulu, satu-satunya modalitas citra yang ada adalah proyeksi radiografi, yang mengkonversi sinyal-sinyal menjadi citra pada suatu media film radiologi.Namun pada beberapa dekade akhir ini, telah terjadi perubahan drastis di area radiografi, seiring dengan ditemukannya suatu metode baru dalam pencitraan anatomi, pathologi, dan fisiologi secara digital, yaitu computed tomography [CT], dan direct digital radiography [DR]. Infiltrasi pencitraan digital ke dalam radiologi ini, membuat pemrosesan citra digital menjadi salah satu bagian fundamental dari departemen radiologi modern.

Gambar 1 Keterkaitan antara PACS, RIS, ePRS, dan HIS
Gambar 1 menunjukan bahwa departemen radiologi digital memiliki 2 komponen, yaitu: sistem manajemen informasi radiologi (RIS – Radiology Information System) dan sistem pencitraan.
RIS adalah sebuah subset dari sistem informasi rumah sakit (HIS – Hospital Information System) atau sistem manajemen klinis (CMS – Clinical Management System). Saat sistem-sistem ini dikombinasikan dengan sistem rekam medis elektronik pasien (ePR – electronic Patient Record atau eMR – electronic Medical Record), akan menjadi suatu sistem dokumentasi radiologi rumah sakit yang filmless dan paperless.
Keberadaan ePR / eMR adalah untuk mendukung sistem analisis dan pelaporan medis yang berorientasi pada pasien, yang akan sulit dilakukan pada HIS. Karena pada umumnya HIS diorganisasikan berdasar pada fungsi-fungsi departemen, divisi, dan spesialisasi, untuk memfasilitasi operasi rumah sakit dan bisnis, dan tidak berorientasi pada pasien. Sedangkan EPR / EMR merupakan suatu disain sistem rumah sakit yang berfokus pada pasien untuk menunjang pemeriksaan dan prosedur lainnya bagi pasien.
Sistem pencitraan, kadangkala direferensikan sebagai picture archiving and communication system (PACS) atau image management and communication system (IMACS), yang meliputi akusisi, penyimpanan, komunikasi, pengambilan, pemrosesan, pendistribusian, dan penampilan citra. Integrasi HIS/CMS dan PACS biasa disebut Hospital Integrated PACS (HI-PACS).
Keberhasilan PACS membutuhkan keberadaan RIS untuk memberi umpan informasi pada PACS tentang informasi pasien dan pemeriksaan, serta untuk dapat melacak keseluruhan siklus hidup pemeriksaan pasien, dari awal pemesanan sampai hasil akhir. PACS dan RIS memiliki tugas yang berbeda dan saling melengkapi, dimana RIS menangani fungsi-fungsi komputasi berbasis teks, termasuk transkripsi, pelaporan, pemesanan, penjadwalan, pelacakan, dan penagihan. Sedangkan PACS menangani fungsi-fungsi komputasi yang berbasis citra, seperti akusisi, interpretasi, penyimpanan, dan distribusi lokal citra.

Radiologi Information System (RIS)

Sekilas tentang RIS (Tentang Radiology Information System)
RIS bertugas mengatur alur kerja informasi pada departemen radiologi (gambar 2), dari penjadwalan pesanan pemeriksaan, mendapatkan informasi klinis yang terkait dengan pemeriksaan dan menyediakannya untuk departemen yang membutuhkan, menyiapkan pemeriksaan tertentu bila dibutuhkan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh PACS untuk dapat melaksanakan tugasnya.
Gambar 2 Infrastruktur radiologi digital tradisional
RIS bertugas mengatur alur kerja informasi pada departemen radiologi (gambar 2), dari penjadwalan pesanan pemeriksaan, mendapatkan informasi klinis yang terkait dengan pemeriksaan dan menyediakannya untuk departemen yang membutuhkan, menyiapkan pemeriksaan tertentu bila dibutuhkan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh PACS untuk dapat melaksanakan tugasnya.
Saat citra telah dihasilkan, RIS dan PACS bekerja sama untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh ahli radiologi untuk mengintepretasikan hasil pemeriksaan dan untuk memberikan laporan ke petugas klinik.
RIS juga memiliki fungsi tambahan untuk mengelola penagihan dari pemeriksaan dan menyediakan data yang dibutuhkan untuk mendukung pelaporan manajerial bagi departemen radiologi. Fungsi pelaporan dari departemen radiologi biasanya memiliki fitur yang memanfaatkan teknologi pengenalan suara (speech recognition).
RIS juga merupakan server penyimpanan bagi semua data pemeriksaan, termasuk laporan. RIS akan melakukan sinkronisasi data citra dengan penyimpanan citra PACS melalui suatu media perantara. Oleh sebab itu, RIS dapat dikatakan sebagai tulang punggung bagi hampir keseluruhan operasi klinis dari departemen radiologi.
Selain mengendalikan manajemen proses pemeriksaan, RIS berfungsi untuk menyediakan informasi pengukuran proses yang baik untuk meningkatkan manajemen operasi dari departemen radiologi. Pengukuran dapat dilakukan berdasarkan pada data pemeriksaan, volume, waktu siklus, dan penagihan.

sumber : https://bettyti2.wordpress.com/2008/08/07/ris-radiology-information-system/

Keuntungan Penerapan PACS di Rumah Sakit

Keuntungan terbesar dalam penerapan PACS adalah terpecahkannya masalah batasan-batasan yang terkait dengan fisikal dan waktu dalam pertukaran informasi.
Keuntungan lainnya dari penerapan PACS adalah penurunan biaya operasional radiologi.
Anda dapat melihat daftar keuntungan yang didapatkan dari penerapan PACS dalam Rumah Sakit
Keuntungan yang didapat dalam penerapan PACS:
A. Meningkatkan Pengaturan Klinis
  • Meningkatkan kemampuan diagnostik dengan adanya kemampuan manipulasi dan proses citra
  • Dengan pemanfaatan alur kerja PACS akan meningkatkan kecepatan pelaporan dan keputusan kinis dan serahan terkait lainnya
  • Meningkatkan persentase pelaporan citra
  • Pemangkasan prosedur klinis
  • Database citra yang terintegrasi mempermudah akses ke citra pasien
  • Kehilangan citra lama karena kerusakan hard copy dapat dihidarkan
  • Meningkatkan komitmen terhadap pemenuhan prinsip-prinsip IR(ME)R
B. Meningkatkan Efektifitas Operasional
  • Penghematan biaya pengadaan film dan bahan kimia (seperti  disposal)
  • Penghematan biaya pengadaan peralatan kantor (seperti jaket film dan label film)
  • Penghematan biaya pos yang berkaitan dengan penanganan hard copy citra
  • Tidak ada biaya yang berkaitan dengan perawatan dan penggantian pemrosesan film konvensional dan peralatan lightbox
  • Penghematan biaya dalam proses penyimpanan dan pemanfaatan hard copy citra oleh pihak ke tiga
  • Pembebasan area internal yang digunakan sebagai penyimpanan hard copy citra dan bahan kimia
  • Memangkas waktu staf dalam menangani hard copy citra, seperti rutinitas penanganan dan pencarian citra yang hilang
  • Memangkas waktu staf yang tak perlu berkaitan dengan jadwal klinik yang dibatalkan karena tidak adanya citra pada saat yang dibutuhkan
  • Efisiensi waktu praktisi klinis dalam proses praktik dengan adanya akses citra dan pelaporan jarak jauh, serta pertemuan tim multidisipliner secara virtual
  • Meningkatkan kemampuan dalam menghadapi beban kerja di masa depan dan menemukan target-target pengaturan baru melalui moderenisasi praktik kerja
  • Tidak diperlukan lagi copy film, sehingga waktu staf dan biaya film dapat digantikan dengan waktu klerikal dan biaya cd
C. Meningkatkan Kenyamanan bagi Pasien
  • Mengurangi ketidaknyamanan pasien karena prosedur yang panjang dalam mendapatkan citra
  • Mengurangi waktu tunggu pasien dalam mendapatkan hasil pengamatan klinis terhadap citra
  • Dengan semakin sedikitnya citra digital yang ditolak karena kerusakan / mutu pengambilan film yang tidak baik, sehingga harus diambil ulang, akan meningkatkan kenyamanan pasien
D. Meningkatkan Linkungan Kerja dan Fasilitas Staf
  • Berkontribusi dalam menekan turn over staf, dan dalam meningkatkan moral melalui pengenalan teknologi PACS moderen
  • Menekan resiko kesehatan dan keselamatan yang berkaitan dengan penanganan bahan kimia dan hard copy citra
  • Meningkatkan pembelajaran dan penelitian melalui kemudahan akses untuk manipulasi citra

sumber : https://bettyti2.wordpress.com/2008/08/05/keuntungan-penerapan-pacs-di-rumah-sakit/

PACS (Picture Archieving And Communication Service)

Sekilas Tentang PACS (Picture Archieving And Communication Service)
Pada awal pengembangan departemen radiologi digital, perhatian akan lebih besar diberikan pada PACS, karena area ini memiliki cakupan sebagian besar pekerjaan radiologi dan akan mengakibatkan perubahan terbesar dalam manajemen proses operasional departemen. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk memahami fungsi-fungsi fundamental dan teknologi dasar PACS.
Gambar 3 Manajemen database PACS
Gambar 3 mengilustrasikan pandangan umum dari fungsi-fungsi dan keterkaitan dasar dari elemen-elemen utama PACS, yaitu akusisi citra, inti PACS, dan wokstation untuk melakukan intrepretasi
Akusisi citra
Akusisi citra adalah titik awal data citra masuk ke PACS dari hasil pemeriksaan citra yang dilakukan oleh berbagai modalitas citra digital (seperti BI – Biomagnetic Imaging, CT – Computed Tomography, CR – Computed Radiography, MG – Mammography, MR – Magnetic Resonance, NM – Nuclear Medicine, PET – Positron Emission Tomography, RF – Radio Fluoroscopy, US – Ultrasound, XA – XRay Angiography, dll). Terdapat 2 metode untuk melakukan akusisi citra digital, yaitu direct capture, dan frame grabbing. Dengan metode direct capture, antarmuka direct digital akan menangkap dan mentransmisikan data citra dari modalitas berupa data spasial dan bit atau gray scale dengan resolusi penuh, dan ditampilkan ke monitor. Pada metode frame-grabbing, seperti pada proses cetak citra ke film, kualitas citra dibatasi oleh proses hanya sampai pada resolusi 8 bits (atau 256 gray values). Sebagaimana telah disebutkan di atas, akusisi citra dapat dilakukan dengan CT atau DR.

Inti PACS
Saat citra telah diakusisi, PACS akan mengelolanya dengan tepat untuk memastikan penyimpanan, pengambilan, dan pengiriman seluruh citra dapat dilakukan tanpa kesalahan. Selain itu PACS akan menjamin penyimpanan data citra jangka panjang, dan dapat digunakan kapan saja saat dibutuhkan, secara real time, terutama untuk interpretasi citra.
Inti PACS terdiri dari: sistem manajemen database relasional (seperti Oracle, MS-SQL, Sybase), media penyimpan (seperti RAID, Jukebox), software pengendali (image manager),  dan antarmuka RIS.
Sistem manajemen database adalah jantung dari PACS. Relasi antara citra dan lokasi penyimpanan disimpan dan dikelola di dalam database, berikut dengan semua data terkait yang dibutuhkan untuk pemanfaatan citra. Sistem manajemen database harus dapat menyediakan data citra berdasarkan pada pencarian pasien atau pemeriksaan tertentu saat diminta (to be queried) oleh RIS atau sistem lainnya.
Untuk menjamin kompatibilitas komunikasi antar sistem yang berbeda ini, digunakan standar komunikasi yang didefinisikan oleh standar Digital Imaging and Coomunications in Medicine (DICOM).
Selain itu, dibutuhkan pula upaya untuk dapat mengelola penyimpanan data citra dalam ukuran yang besar (biasanya menggunakan teknologi RAID), dan menjamin penyimpanan data citra dalam jangka waktu yang lama sesuai dengan regulasi penyimpanan serta pengembalian data saat terjadi bencana (disaster recovery). Tabel 2 menunjukan ukuran penyimpanan rata-rata yang dibutuhkan untuk 1 pemeriksaan secara umum.
Manajemen citra (kendali alur kerja) adalah tugas dari inti PACS yang paling nyata dan mengatur fugsionalitas dari PACS. Manajemen citra / alur kerja PACS menentukan dimana dan bagaimana citra akan diarahkan di dalam sistem, untuk memastikan citra tersebut disimpan pada tempat yang telah ditentukan dengan tepat, pada saat diterima dari alat pencitraan (modalitas). Manajemen citra berfungsi juga untuk mengarahkan pemeriksaan ke lokasi yang tepat, berdasarkan pada database PACS atau RIS.Selain itu, manajemen citra berfungsi untuk mengelola penyimpanan dan distribusi citra, serta merupakan area di dalam ruang lingkup PACS yang memberikan alat bantu bagi administrator sistem untuk mengkoreksi kesalahan sistem dan data untuk memastikan integritas data.
Gambar 4 RIS mengatur alur kerja PACS
Antarmuka RIS bertugas untuk memberi umpan informasi penjadwalan dan pemeriksaan yang sesuai ke inti PACS untuk menunjang validasi awal dari suatu pemeriksaan tertentu. PACS akan menyimpan informasi demografi / pemeriksaan yang valid ini ke dalam citra tersebut.
Keberadaan perantara bergantung pada konfigurasi dan arsitektur keterkaitan PACS-RIS, antarmuka ini dapat dikelola dengan atau tanpa perantara. Tugas perantara adalah untuk melakukan negosiasi antara PACS dan RIS terhadap data yang dibutuhkan dan konvensi format data yang mungkin dibutuhkan dalam berkomunikasi.

Terdapat 2 tipe arsitektur kombinasi RIS-PACS berdasarkan pada sistem mana yang sebenarnya mengendalikan alur kerja, RIS atau PACS.
Tipe arsitektur pertama (gambar 4) menjadikan RIS sebagai pengendali alur kerja lingkungan, dimana daftar kerja modalitas dan daftar kerja ahli radiologi dikendalikan secara langsung oleh RIS. Sedangkan PACS, yang beraksi dalam mode pasif (sebagai repositori citra), bertugas melayani permintaan citra dari RIS.
Pada metode ini, RIS mengatur alur kerja dengan mempopulasikan daftar kerja modalitas, sehingga pengaturan kerja dapat dilakukan di tiap modalitas. Jadwal, status tiap pemeriksaan, dan perubahan pada status (dibatalkan atau diselesaikan) dikomunikasikan secara langsung dengan RIS, dan memungkinkan RIS untuk melakukan update databasenya.
Saat status selesai diterima dari modalitas, dan studi telah divalidasi (RIS dan PACS mengkomparasi informasi untuk memastikan akurasi). Hasil pemeriksaan akan dikirim dari RIS ke daftar kerja ahli radiologi.
Ahli radiologi akan mendapatkan hasil pemeriksaan yang perlu diinterpretasikan dengan menggunakan data yang disediakan oleh RIS untuk melakukan pencarian (query) ke PACS dan menampilkan citra tersebut pada workstation.
Gambar 5 PACS sebagai pengendali alur kerja
Tipe arsitektur kedua (gambar 5) sangat umum digunakan pada sistem lama dan kebanyakan PACS saat ini. Pada model ini, fungsionalitas perantara diintegrasikan ke dalam PACS, sehingga alur kerja akan dikendalikan oleh PACS, dan RIS beraksi dalam mode pasif sebagai penyedia sumber data.
Alur kerja mode ini menunjukkan bahwa saat suatu pemeriksaan dipesan, permintaan akan berjalan melalui suatu jalur ke RIS, dan kemudian dikirim ke modalitas untuk menghasilkan daftar kerja.
Saat status pemeriksaan berubah (selesai atau batal), perubahan akan dikomunikasikan ke PACS, kemudian ke RIS. Dan saat PACS dan RIS telah bertukar informasi untuk melakukan validasi pemeriksaan, daftar kerja ahli radiologi di-update. Workstation akan mencari (query) data ke PACS untuk citra terkait, dan proses berlanjut secara normal.

Workstation Interpretasi
Workstation adalah tempat dimana fisikawan dan praktisi klinis melihat citra dan informasi hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Terdapat 2 klasifikasi workstation, yaitu diagnostik dan review. Perbedaan antara 2 klasifikasi wokstation ini ada pada resolusi dan fungsionalitas.
Workstation diagnostik adalah tipe wokstation yang digunakan oleh ahli radiologi untuk melakukan interpretasi pemeriksaan secara primer. Workstation tipe ini memiliki resolusi dan brightness tertinggi dan berisi tingkat fungsionalitas tertinggi. Secara historis, mereka didedikasikan untuk tugas dengan aplikasi yang dijalankan secara lokal. Tabel 3 menunjukan berbagai tingkatan resolusi berdasarkan ukuran dan tipe display (monitor).
Tipe workstation berikutnya adalah workstation klinikal review yang digunakan oleh praktisi klinis untuk melakukan review citra. Workstation ini tidak sebagus workstation diagnostik, baik dari segi hardware (resolusi) ataupun fungsionalitas. Area ini mendapatkan keuntungan terbanyak dari pemanfaatan workstation yang berbasis web, sehingga akses ke citra dapat didistribusikan lebih luas (bahkan dari luar lingkungan praktik).

sumber : https://bettyti2.wordpress.com/2008/08/07/pacs/

Computed radiography vs Digital radiography

Mengapa harus Digital?


Computed radiography
adalah proses merubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi . Pada sistem Computed Radiography data analog dikonversi ke dalam data digital pada saat tahap pembangkitan energi yang terperangkap di dalam Imaging Plate dengan menggunaklan laser, selanjutnya data digital berupa sinyal-sinyal ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT ) kemudian cahaya tersebut digandakan dan diperkuat intensitasnya setelah itu di ubah menjadi sinyal elektrik yang akan di konversi kedalam data digital oleh Analog Digital Converter (ADC).

Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan penggabung antara film radiografi dan screen, akan tetapi pada Komputer radiografi menggunakan imaging plate. Walaupun imaging plate secara fisik terlihat sama dengan screen konvensional tetapi memiliki fungsi yang sangat jauh berbeda, karena pada imaging plate berfungsi untuk menyimpan enersi sinar x kedalam photo stimulable phosphor dan menyampaikan informasi gambar itu ke dalam bentuk data digital.

Komponen-komponen yang terdapat pada Computed Radiography antara lain :

Kaset
Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiber dan bagian belakang terbuat dari almunium, kaset ini berfungsi sebagaii pelindung dari Imaging Plate.

Imaging Plate
merupakan komponen utama pada sistem CR yang berfungsi menyimpan energi sinar x, imaging plate terbuat dari bahan Photostimulabel phosphor. Dengan menggunakan Imaging Plate memungkinkan proses gambar pada sistem komputer radiografi untuk melakukan berbagai modifikasi.

Proses yang terjadi pada Imaging Plate di mulai pada saat terkena penyinaran sinar-x , Imaging Plate akan menangkap energi dari sinar x kemudian disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi data digital dengan Laser Scanner di dalam Image Reader. Setelah Imaging Plate melalui proses scanning, gambaran akan di tampilkan pada monitor komputer, sementara Imaging Plate masuk ke bagian data penghapusan (erasure) untuk dibersihkan sehingga dapat digunakan kembali untuk pasien yang lainnya.

Proses pembentukan gambar yang terjadi pada imaging plate melalui beberapa tahapan :

1). Exposure
Imaging Plate diletakkan didalam kaset, setelah itu kita lakukan eksposi dengan menggunakan sinar x. Sinar x yang menembus obyek akan mengalami atenulasi sehingga enersi dari sinar x tersebur ditangkap oleh imaging plate dalam bentuk data digital.

2). Stimulate
Bayanggan tersebut kemudian distimulasi dengan Photo Stimulable Phosphor (PSP) yang fungsinya untuk mengubah bayangan laten pada IP menjadi cahaya tampak.

3). Read (pembacaan)
Dengan menggunakan Photo Multiplier, cahaya tampak tersebut di tangkap dan digandakan serta diperkuat intensitasnya kemudian diubah menjadi sinyal elektrik. kemudian sinyal-sinyal ini direkonstruksikan menjadi sebuah gambaran yang dapat dilihat oleh layar monitor.

4). Erasure (penghapusan)
Setelah proses pembacaan seselai, data gambar pada imaging plate secara otomatis akan dihapus oleh Intense Light sehingga imaging plate dapat digunakan kembali.

Digital radiografi
adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
Komponen Digital Radiography
Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.
 
zaman yang semakin berkembang, menuntut kita untuk bekerja cepat dengan proses yang tepat. Era digital membawa perubahan dalam berbagai bidang dan membantu kerja manusia. JADI mengapa harus digital? Dunia kesehatan terutama di bidang Radiologi di minta berkerja secara cepat dan efektif. Penggunaan teknologi digital dalam bidang ini membantu kerja Radiografer  menjadi lebih baik. keuntungan lain dari teknologi ini adalah berkurangnya Reject film, penyimpanan film lebih aman karna dalam bentuk data dan juga lebih bersih.
A. X-ray Source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.

B. Image Receptor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.

1) Flat Panel Detectors (FPDs)
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu

a. Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.

b. Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.

2) High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).
Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.
 
C. Analog to Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
 
D. Komputer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
 
E. Output Device
Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.

sumber : http://mastheo37.blogspot.com/2013/10/computed-radiography-vs-digital.html

Dasar Computed Radiography

A. Pengertian Computed Radiography

Computed Radiography adalah proses digitalisasi gambar yang menggunakan lembar atau photostimulable plate untuk akusisi data gambar (Ballinger, 1999). Dalam Computed Radiography terdapat system komponen utama yaitu, Image Plate (IP), Image Reader, Image Console dan Imager. 
1) Image Plate 
Image plate merupakan lembaran yang dapat menangkap dan menyimpan sinar-x. 
2) Image Reader 
Merupakan alat untuk mengolah gambaran laten pada Imaging Plate (IP) menjadi data digital. 
3) Image Console 
Berfungsi sebagai pembaca dan pengolahan gambar yang diperoleh dari IP dengan menggunakan optoelectronic laser scanner (helium neon (He-Ne) 632,8 nM). Dilengkapi dengan preview monitor untuk melihat radiograf yang dihasilkan, apakah goyang, terpotong dll. 
4) Imager 
Apabila foto dikehendaki untuk dicetak, maka gambar
dapat dikirim ke bagian imager untuk dicetak sesuai kebutuhan. 
Media penerimaan gambar pada Computed Radiography adalah IP, yaitu sebagai pengganti kaset yang berisi film-screen (Ballinger, 1999). Secara ringkas proses produksi gambar digital pada Computed Radiography adalah sebagai berikut : 
Imaging Plate (IP) diekspose dengan sinar-x, maka akan terbentuk bayangan laten pada IP. IP yang telah diekspose ini dimasukkan pada Image Plate Reader. IP kemudian di scan dengan helium-neon laser (emisi cahaya merah) sehingga kristal pada IP menghasilkan cahaya biru. Cahaya ini kemudian dideteksi oleh photosensor dan dikirim melalui Analog Digital Converter ke computer untuk diproses. Setelah gambar diperoleh, IP ditransfer ke bagian lain dari Imaging Plate Reader untuk dihapus agar IP tersebut dapat digunakan kembali. Gambar yang telah discan kemudian dimasukkan ke dalam komputer untuk diproses lalu ditampilkan pada monitor atau film (Ballinger, 1999). 
B. Keuntungan dan Keterbatasan Computed Radiography
1) Keuntungan Computed Radiography 
Computed Radiography mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan radiografi konvensial, antara lain :
  1. Angka pengulangan yang lebih rendah karena kesalahan-kesalahan faktor teknis. 
  2. Resolusi kontras yang lebih tinggi dan latitude eksposi yang lebih luas dibandingkan emulsi film radiografi.
  3. Tidak memerlukan kamar gelap atau biaya untuk film ( jika gambar tidak ditampilkan dalam hard copy).
  4. Kualitas gambar dapat ditingkatkan. 
  5. Penyimpanan gambar lebih mudah baik dengan hard copy maupun penyimpanan elektronik. ( Papp, 2006). 
2) Keterbatasan Computed Radiography 
Keterbatasan dari Computed Radiography antara lain : 
  1. Biaya yang cukup tinggi untuk IP, unit CR reader, hardware dan software untuk workstation. 
  2. Resolusi spatial rendah. 
  3. Pasien potensial untuk menerima radiasi yang overexposed. Computed Radiography (CR) dapat mengkompensasi overeksposure, sehingga radiografer terkadang member eksposi yang berlebih pada pasien. 
  4. Adanya artefak pada gambar akibat proses penghapusan IP yang kurang baik. ( Papp, 2006).
sumber : http://catatanradiograf.blogspot.com/2011/06/dasar-computed-radiography.html

Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi Rumah Sakit

Kesejahteraan kesehatan merupakan salah satu syarat dasar untuk mencapai keunggulan kompetitif suatu bangsa. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan merupakan ujung tombak tercapainya kesejahteraan kesehatan. Meskipun tujuan utama rumah sakit tidak diorientasikan pada laba, tapi rumah sakit tetap membutuhkan tatakelola yang baik (good governance). Hal tersebut akan mendorong rumah sakit dalam peningkatan kinerjanya secara komprehensif.

Untuk rumah sakit swasta, tata kelola secara baik dan benar  telah  menjadi kebutuhan untuk dapat terus bertahan dan berkembang. Sementara bagi rumah sakit pemerintah dukungan terhadap tata kelola rumah sakit yang baik dinyatakan melalui Undang-undang No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. Dalam Undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa instansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat melakukan pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas. Prinsip-prinsip pokok dalam Undang-Undang tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi instansi pemerintah untuk menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum.
Fleksibilitas pengelolaan keuangan, mendorong rumah sakit pemerintah berubah menjadi Badan layanan Umum. Pemilihan bentuk sebagai Badan Layanan Umum mempunyai konsekuensi pada akuntabilitas dan auditabilitas. Selain itu, sebagai Badan Layanan Umum, rumah sakit harus bersedia untuk melakukan pengelolaan berdasarkan praktek bisnis yang sehat.

Untuk meningkatkan akuntabilitas dan auditabilitas sebagai Badan Layanan Umum, rumah sakit membutuhkan dukungan sistem informasi akuntansi.

Billing system merupakan bagian dari sistem informasi akuntansi yang komprehensif.
yang berujung pada laporan keuangan secara lengkap. Melalui pengembangan sistem informasi akuntansi secara lengkap, diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam; (1) memproses setiap transaksi pelayanan dan kegiatan lainnya,menjadi informasi keuangan untuk tujuan pelaporan ;(2) meningkatkan akuntabilitas dan auditabilitas rumah sakit;(3) menjamin bahwa setiap prosedur diimplementasikan secara efektif dan efisien;(4) menjamin terciptanya pengendalian intern (5) menyediakan data yang akurat dan relevan untuk pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah organisasi berbasis informasi.

Sistem Informasi Akuntansi
Sistem informasi Akuntansi merupakan sistem untuk mengidentifikasi, mengumpulkan dan mencatat peristiwa atau transaksi ekonomi dalam organisasi dan menyajikannya dalam bentuk informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Sistem informasi Akuntansi rumah sakit dikembangkan berdasarkan siklus-siklus transaksi utama di rumah sakit, yaitu siklus pendapatan, siklus pengeluaran, siklus pelayanan, siklus keuangan dan siklus pelaporan keuangan.
Pengembangan sistem informasi akuntansi rumah sakit tidak dapat dilepaskan dari standar akuntansi yang berlaku dan kebijakan keuangan yang digunakan pada organisasi rumah sakit. Oleh karena itu, standar akuntansi yang berlaku dan kebijakan keuangan rumah sakit menjadi dasar pijakan pengembangan sistem akuntansi rumah sakit melalui pengembangan prosedur operasi standar. Contoh pengembangan prosedur operasi standar pada rumah sakit meliputi:
  • Penerimaan dan Penagihan
  • Pengadaan Barang/ Jasa
  • Pengupahan
  • Pengelolaan Persediaan
  • Pengelolaan Aset Tetap
  • Pengelolaan Kas
  • Pelaporan Keuangan
  • Pengendalian Internal
sumber : http://manajemenrumahsakit.net/2012/07/sistem-informasi-akuntansi/ (dengan perubahan)

CARE2X HOSPITAL INFORMATION SYSTEM

Care2x HIS merupakan sebuah aplikasi yang menangani sistem informasi di rumah sakit yang dikembangkan oleh kelompok pengembang dibawah bendera care2x. Care2x HIS didesain untuk mengintegrasikan berbagai sistem informasi yang ada di rumah sakit menjadi satu sistem informasi yang efisien. Selain menangani berbagai jenis proses medis care2x HIS juga menangani berbagai proses non-medis seperti kamera keamanan, Intranet Email, Perawatan Database dari Care2x, dll.
Care2x HIS menawarkan system informasi yang dapat memecahkan beberapa permasalahan dalam hal system informasi yang biasa terjadi didalam sebuah rumah sakit antara lain :
  • memiliki modul – modul untuk menangani sebagian besar fungsi dan departemen yang dimiliki oleh rumah sakit yang biasanya ditangani oleh berbagai aplikasi terpisah sehingga menyulitkan untuk mengintegrasikan informasi yang ada.
  • Menggunakan database dan format data tunggal untuk seluruh modul yang ada sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan masalah redudansi data.
  • Menggunakan SQL sebagai format data yang merupakan format standar/umum saat ini sehingga memungkinkan care2x HIS berkomunikasi dengan seluruh system yang dimiliki care2x dan juga berbagai aplikasi lain diluar lingkup care2x.
  • Care2x HIS menggunakan PHP dan Javascript sebagai bahasa pemrogramman sehingga mampu dijalankan pada berbagai jenis system operasi dengan menggunakan web browser standar.
  • Aplikasi dan komponen pendukung dari Care2x HIS (Apache webserver, PHP Scripting Language, MySQL database, Internet/Intranet Webbrowser) merupakan aplikasi open source yang bebas biaya sehingga proses instalasi, pengembangan, dan perawatan tidak memerlukan biaya yang besar.
  • Seluruh modul diimplementasikan pada server (server side) sehingga proses penambahan modul atau update tidak perlu dilakukan pada setiap workstation yang dapat mengganggu proses pelayanan.
Selain fitur-fitur diatas, Care2x HIS juga memperhatikan masalah kerahasiaan data, khususnya masalah keamanan rekam medis pasien dan rahasia institusi dengan menerapkan beberapa lapis system keamanan antara lain, kebijakan hak akses yang berbeda untuk setiap orang/user apabila ingin menambah, melihat, memodifikasi ataupun menghapus data yang ada, hak akses diterapkan sesuai hirarki dari user sehingga setiap user memiliki hak dan tanggung jawab yang jelas, seluruh password dan data yang diproses oleh aplikasi care2x HIS disimpan dalam keadaan terenkripsi (dikodekan) pada sebuah Bank Data dan hanya dapat diakses oleh System Administrator, pencatatan dilakukan setiap kali user melakukan/mencoba masuk kedalam system pada sebuah log sehingga dapat di telusuri balik, hak akses setiap user memiliki waktu kedaluwarsa sehingga password akan selalu diperbaharui untuk menjamin keamanan data, data yang dikirim dari server ke workstation melalui jaringan akan dilindungi dengan dengan mekanisme enkripsi sehingga akan menyulitkan apabila ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ingin mencuri data. Sebagai aplikasi berbasis web Care2x HIS memungkinkan aplikasi ini untuk diakses melalui internet dan untuk melakukan hal tersebut diperlukan hak akses khusus.
AKBAR CS HARI

Care2x HIS merupakan salah satu produk dari Care2x yang didesain mampu berintegrasi menjadi satu dan dapat diintegrasikan dengan berbagai system informasi kesehatan lain yang telah ada sebelumnya, adapun aplikasi lain yang menjadi bagian dari system informasi kesehatan yang menjadi produk dari Care2x adalah Care2x PM (Practice Manajemen) yang diperuntukkan untuk menangani system informasi pada institusi kesehatan yang bersifat pribadi seperti praktik dokter/bidan swasta, Care2x Central Data Server yang didesain untuk menjadi pusat data dari sebuah system informasi kesehatan dan Care2x Health Xchange Protocol yang menjembatani aplikasi baik yang merupakan produk dari care2x maupun dari produk lain.
FITUR / FUNGSI
Seperti dijabarkan sebelumnya, Care2x HIS memiliki modul/fitur yang menangani hampir seluruh bisnis proses yang ada pada institusi Rumah Sakit, berikut sekilas tentang fitur yang dimiliki oleh Care2x :
  • Home
Modul ini merupakan rangkuman / gambaran umum dari seluruh kegiatan/informasi yang ada pada institusi, berisi informasi antara lain berita, jam kerja, modul kafetaria (menu hari ini), modul kalendar (daftar dokter jaga, perawat jaga), dll
  • Appointment
Sesuai nama modul, modul ini berisi informasi mengenai jadwal/rencana pertemuan antara pasien dan dokter, mendaftarkan pasien kepada dokter sesuai jadwal yang telah dicatat sebelumnya. Sedangkan proses untuk menjadwalkan pertemuan dilakukan pada modul person.
  • Person
Modul person akan menyimpan informasi mengenai seluruh aktifitas dari pasien yang pernah/sedang memanfaatkan fasilitas Rumah Sakit (RS). Informasi yang terekam pada modul ini antara lain, data pribadi pasien, kunjungan pasien, menjadwalkan pertemuan, menampilkan Electornic Medical Record (EMR), dll
  • Admission
Modul ini berfungsi untuk merekam seluruh bisnis proses selama pasien dirawat di RS, informasi yang diproses oleh modul ini antara lain pendaftaran pasien (baru, yang sudah dijadwalkan sebelumnya, dll), mencetak gelang identitas, penempatan kamar/bed untuk rawat inap dan merujuk ke klinik tertentu untuk rawat jalan, peresepan, dll.
  • Ambulatory
Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan ambulan akan direkam/ditampilkan pada modul ini, seperti menampilkan jadwal ambulan, daftar tunggu untuk pasien rawat jalan, transfer pasien, dll.
  • Medocs
Modul ini berfungsi untuk mencatatan dokumen pasien.
  • Doctors
Modul ini menggambarkan seluruh aktivitas dokter seperti, jadwal jaga, daftar dokter yang ada, informasi mengenai kontak dokter, dll.
  • Nursing
Modul ini merupakan modul yang menangani seluruh aktifitas kegiatan dari suster/perawat seperti, status bed/kamar, daftar pasien yang menempati bed/kamar, menempatkan pasien pada bed/kamar, melepas status terpakai pada bed/kamar (pasien selesai menempati bed/kamar), dll.
  • OR
Operational Research merupakan modul yang mencatat semua kegiatan medis dari dokter/perawat.
  • Laboratories
Modul laboratories (Laboratorium) akan mencatat semua kegiatan yang ada di laboratorium, adapun jenis laboratorium yang dapat ditangani oleh Care2x antara lain, Lab. medis, Lab. Phatology, Lab. Bakteriology, Bank Darah dan administrasi.
  • Radiology
Seperti modul laboratories, modul Radiology akan merekam kegiatan pada bagian radiologi seperti, mencatat permintaan untuk pemeriksaan radiologi, mencatat hasil tes, berhubungan dengan peralatan tes (Dicom), meng-upload gambar hasil dari alat tes, dll.
  • Pharmacy
Pencatatan mengenai keluar masuk obat akan dicatat pada modul ini, seperti pencatatan obat baru, menambah jumlah obat, mengeluarkan obat sesuai permintaan, catalog obat, dll.
  • Medical Depot
Modul ini memiliki alur kerja yang serupa dengan modul pharmasi hanya saja objek yang ditangani pada modul ini adalah peralatan medis yang dibutuhkan oleh rumah sakit.
  • Directory
Modul ini merupakan modul tambahan yang berisi daftar seluruh telepon yang berhubungan dengan rumah sakit.
  • Technical Support
Seluruh kegiatan perbaikan yang terjadi pada rumah sakit akan dicatat pada modul ini, seperti permintaan akan perbaikan, laporan penyelesaian perbaikan, kumpulan kegiatan perbaikan, dll.
  • EDP
Modul ini lebih bersifat penanganan/perawatan terhadap aplikasi Care2x HIS, seperti mengatur hak akses user, penanganan database dengan aplikasi PHPMyAdmin, mengkonfigurasi aplikasi, dll.
  • Intranet dan Internet Email
Aplikasi Care2x HIS juga memiliki kemampuan sebagai untuk mengelola email baik yang bersifat intranet yang disimpan pada server lokal maupun pada server luar (internet).
  • Special Tools
Modul ini merupakan modul khusus yang menangani beberapa kegiatan antara lain eComBill yang berfungsi untuk mencetak tagihan, Personel Manager untuk memproses data karyawan, Insurance Company Manager untuk mendata perusahaan asuransi yang memiliki kerja sama dengan pihak rumah sakit, Address Manager yang merekan data alamat, Photolab yang berhubungan dengan gambar baik pasien maupun medis, Video Security untuk kamera keamanan, Calendar, Calculator, Clock, Access Password, dll.
Secara garis besar aplikasi Care2x layak untuk dipertimbangkan sebagai aplikasi alternatif untuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, mengingat beberapa kelebihan yang ditawarkan tanpa mengabaikan faktor perbedaan dari bisnis proses yang ada pada setiap rumah sakit. Penyesuaian dapat dilakukan dengan leluasa mengingat aplikasi ini bersifat open source sehingga siapa saja dapat memodifikasi aplikasi ini. Dokumentasi yang disediakan oleh pihak pengembang relatif jelas untuk semua pengguna, baik user, administrator maupun pengembang perangkat lunak.
Pemikiran pengembang dari Care2x untuk mengembangkan aplikasi yang mampu menjembatani berbagai aplikasi untuk dapat saling bertukar data/informasi patut ditiru dan diimplementasikan, khususnya oleh pihak pemerintah, didalam mengembangkan sebuah system informasi kesehatan daerah sehingga seluruh data/informasi mengenai kesehatan dapat terintegrasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.


sumber : http://simkesopensource.wordpress.com/

Peran Teknologi Informasi untuk Mendukung MIK di Rumah Sakit

A. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara
elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.

Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Artikel ini secara khusus akan membahas perkembangan teknologi informasi untuk mendukung manajemen rekam medis secara lebih efektif dan efisien. Tulisan ini akan dimulai dengan berbagai contoh aplikasi teknologi informasi, faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta refleksi bagi komunitas rekam medis.

B. Aplikasi teknologi informasi untuk mendukung manajemen informasi kesehatan

Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.
Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.

Perangkat keras (baik input, pemroses, penyimpan, maupun output), perangkat lunak serta infrastruktur, ketiga-tiganya memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas maupun efisiensi manajemen informasi kesehatan. Beberapa contoh penting yang akan diulas adalah (1)rekam medis berbasis komputer, (2) teknologi penyimpan portabel seperti smart card,(3) teknologi nirkabel dan (4) komputer genggam.

B.1. Rekam medis berbasis komputer (Computer based patient record)
Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya[1].
Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi dapat mematuhi protokol klinik.
Gambar 1. Alert tentang permintaan lab yang berlebihan dalam salah satu model aplikasi rekam medis berbasis komputer

B.2. Teknologi penyimpan data portable
Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time.
Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai penanda unik merek datang tertentu. Hal ini jelas sekali mempermudah supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug Administration (FDA) di AS telah mewajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.

Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan barcode reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat tersebut. Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai dengan RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database komputer. Sehingga pengidentifikasian akan berjalan secara otomatis.

B. 3. Teknologi nirkabel
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.

B. 4. Komputer genggam (Personal Digital Assistant)
Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan feedback kepada rumah sakit.

C. Apa faktor keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer?
Memang, hingga saat ini tidak ada satu rumah sakit di dunia yang dapat menerapkan konsep rekam medis elektronik yang ideal. Namun demikian, beberapa penelitian melaporkan karakteristik dan pengalaman rumah sakit dalam menerapkan rekam medis elektronik. Doolan, Bates dan James[2] mempublikasikan suatu studi tentang keberhasilan penerapan 5 rumah sakit utama di AS yang menerapkan rekam medis berbasis komputer dan mendapatkan penghargaan Computer-Based Patient Record Institute Davies’ Award. Kelimanya adalah :
1. LDS Hospital, Salt Lake City (LDSH) pada 1995
2. Wishard Memorial Hospital, Indianapolis (WMH) tahun 1997
3. Brigham and Women’s Hospital, Boston (BWH) tahun 1996
4. Queen’s Medical Center, Honolulu (QMC) in1999
5. Veteran’s Affairs Puget Sound Healthcare System, Seattle and Tacoma (VAPS) tahun 2000
Kelima rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan dengan jumlah tempat tidur bervariasi (dari 246-712 TT). Berdasarkan kepemilikan, 3 diantaranya merupakan rumah sakit swasta non profit (no 1, 3 dan 4), 1 merupakan rumah sakit daerah (nomer 2) dan 1 rumah sakit tentara (nomer 5).
Rekam medis elektronis telah diterapkan untuk mendukung pelayanan rawat inap, rawat jalan maupun rawat darurat. Berbagai hasil pemeriksaan laboratoris baik berupa teks, angka maupun gambar (seperti patologi, radiologi, kedokteran nuklir, kardiologi sampai ke neurologi sudah tersedia dalam format elektronik. Disamping itu, catatan klinis pasien yang ditemukan oleh dokter maupun perawat juga telah dimasukkan ke alam komputer baik secara langsung (dalam bentuk teks bebas atau terkode) maupun menggunakan dictation system. Sedangkan pada bagian rawat intensif, komputer akan mengcapture data secara langsung dari berbagai monitor dan peralatan elektronik. Sistem pendukung keputusan (SPK) juga sudah diterapkan untuk membantu dokter dan perawat dalam menentukan diagnosis, pemberitahuan riwayat alergi, pemilihan obat serta mematuhi protokol klinik. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis serta memberikan instruksi klinis. 

Namun demikian, bukan berarti kertas tidak digunakan. Dokter masih menggunakannya untuk mencetak ringkasan data klinis pasien rawat inap sewaktu melakukan visit. Di bagian rawat jalan, ringkasan klinis tersebut dicetak oleh staf administratif terlebih dahulu.
Meskipun menggunakan pendekatan, jenis aplikasi serta pengalaman yang berbeda-beda, namun secara umum ada kesamaan faktor yang faktor yang menentukan keberhasilan mereka dalam menerapkan rekam medis berbasis komputer, yaitu:

Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.

Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.

Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Di kelima rumah sakit tersebut, berbagai upaya dilakukan, baik formal maupun non formal untuk melibatkan dokter dan dalam perancangan dan modifikasi sistem. Dokter, perawat maupun tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman informatik dilibatkan sebagai penghubung antara klinisi dan sistem informasi. Hal ini terutama sangat penting dalam merancangn sistem pendukung keputusan klinis. Salah satu manajer IT mengatakan bahwa “We had over 530 people involved, and doctors hired to help us design screens and everything. The doctors were very much part of the effort.”

Menjaga dan meningkatkan produktivitas klinis
Meskipun diakui bahwa penggunaan komputer menambah beban bagi dokter, tetapi rumah sakit menyediakan fasilitas yang sangat mendukung. Jaringan nir kabel disediakan agar dokter tetap dapat mengakses data secara mobile. Demikian juga, fasilitas Internet memungkinkan mereka memantau perkembangan pasien dari rumah. Komputer juga tersedia secara merata, untuk rawat jalan perbandingan tempat tidur dengan komputer antara 1:3-5, bahkan di LDS 1:1. Sedangkan di unit rawat jalan 1 ruang 1 komputer.

Menjaga momentum dan dukungan terhadap klinisi.
Salah satu dokter mengatakan bahwa “..We demonstrated and talked about it and evangelized the clinical staff that this was something good, something sexy, high tech and innovative and it was going to be expected to be utilized.” Karena kesemuanya adalah rumah sakit pendidikan, setiap residen diharuskan menggunakan komputer untuk mencatat perkembangan pasien. Akan tetapi, memelihara momentum agar dokter dapat menggunakan komputer secara langsung bervariasi, dari 3 tahunan hingga satu dekade.
Pengalaman di atas mengungkapkan bahwa penerapan IT untuk rekam medis merupakan effort yang luar biasa yang tercermin mulai dari leadership pimpinan, komitmen finansial dan SDM, tujuan organisasi, proses perancangan yang melelahkan, networking antara tenaga medis, non medis dan informatik hingga menjaga momentum.

D. Hambatan dan kendala
Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa masih banyak kendala dalam penerapan teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah sakit. Jika masih dalam taraf pengembangan sistem informasi transaksi (misalnya data administratif, keuangan dan demografis) problem sosiokltural tidak terlalu kentara. Namun demikian, jika sudah sampai aspek klinis, tantangan akan semakin besar. Di sisi lain, persoalan kesiapan SDM seringkali menjadi pengganjal. Pemahaman tenaga kesehatan di rumah sakit terhadap potensi TI kadang menjadi lemah karena pemahaman yang keliru. Oleh karena itu penguatan pada aspek pengetahuan dan ketrampilan merupakan salah satu kuncinya. Disamping itu, tentu saja adalah masalah finansial. Tanpa disertai dengan bantuan tenaga ahli yang baik, terkadang investasi TI hanya akan memberikan pemborosan tanpa ada nilai lebihnya. Yang terakhir adalah kecurigaan terhadap lemahnya aspek security, konfidensialitas dan privacy data medis.

E. Menerapkan aplikasi
Bagaimana memilih dan menerapkan aplikasi teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah sakit?
Ini merupakan pertanyaan krusial yang harus dijawab. Melihat pada pengalaman di atas, kita harus mengembalikan kepada komitmen, visi dan leadership dari organisasi. Apakah ini hanya karena ikut-ikutan atau memang sudah tertuang dalam rencana stratejik rumah sakit? Selain itu, bagaimana implikasi biaya dan sumber daya manusia? Bagaimana menjalin kerjasama antar berbagai komponen di rumah sakit, baik tenaga medis maupun non medis?

Jika pertanyaan tersebut sudah dijawab, kita dapat memilih aplikasi yang sesuai dengan kemampuan organisasi. Langkah yang paling penting adalah pengembangan sistem informasi transaksional (data administratif dan klinis sederhana). Selanjutnya, pengembangan level kedua, yaitu sistem informasi manajemen dan sistem sistem informasi eksekutif(sistem pendukung keputusan) dapat dilakukan kemudian. Aplikasi SMS sebagai reminder bagi ibu hamil untuk memeriksakan secara tepat waktu juga meruapakan salah satu model SPK bagi pasien. Demikian juga model serupa agar jadwal imunisasi bagi balita tidak terlambat. Investasi yang diperlukan cukup dengan komputer yang telah diisi dengan database klinik pasien, nomer HP serta rule mengenai penjadwalan imunisasi. Penerapan jaringan wireless saat ini juga bukan investasi yang mahal. Dan masih seabreg inovasi lain yang dapat dikembangkan.

Dari konteks teknologi informasi dan komunikasi, dapat dikatakan bahwa pelbagai aplikasi sangat potensial sekali diterapkan di dunia medis. Akan tetapi kita harus memperhatikan bahwa hingga saat ini secara kultural, dunia medis, termasuk yang sudah menerapkan infrastruktur elektronik secara canggih sebagian besar transaksi informasi klinis masih berjalan secara face to face[3]. Sehingga tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa keberhasilan sistem informasi di rumah sakit 90% merupakan masalah sosial kultural dan hanya 10% saja yang merupakan masalah informatika.

F. Penutup: refleksi bagi komunitas rekam medis
Mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat, komunitas rekam medis perlu memahami berbagai konsep serta aplikasi medical informatics (informatika kedokteran). Informatika kedokteran (kadang disebut juga informatika kesehatan) adalah disiplin yang terlibat erat dengan komputer dan komunikasi serta pemanfaatannya di lingkungan kedokteran dikenal sebagai informatika kedokteran (medical informatics)[4]. Dalam pengertian yang lebih rinci, Shortliffe mendefinisikan informatika kedokteran sebagai berikut: “Disiplin ilmu yang berkembang dengan cepat yang berurusan dengan penyimpanan, penarikan dan penggunaan data, informasi, serta pengetahuan (knowledge) biomedik secara optimal untuk tujuan problem solving dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informatika kedokteran bersentuhan dengan semua ilmu dasar dan terapan dalam kedokteran dan terkait sangat erat dengan teknologi informasi modern, yaitu komputer dan komunikasi. Kehadiran informatika kedokteran sebagai disiplin baru yang terutama disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan komputer, menimbulkan kesadaran bahwa pengetahuan kedokteran secara esensial tidak akan mampu terkelola (unmanageable) oleh metode berbasis kertas (paper-based methods).”[5]. Lingkup kajian informatika kedokteran meliputi teori dan terapan[6]. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa informatika kedokteran merupakan disiplin ilmu tersendiri.

Secara terapan, aplikasi informatika kedokteran meliputi rekam medik elektronik, sistem pendukung keputusan medik, sistem penarikan informasi kedokteran, hingga pemanfaatan internet dan intranet untuk sektor kesehatan, termasuk merangkaikan sistem informasi klinik dengan penelusuran bibliografi berbasis internet[7]. Dengan demikian, komunitas rekam medis akan memiliki wawasan yang luas mengenai prospek teknologi informasi serta mampu menjembatani klinisi (pengguna dan penyedia utama informasi kesehatan) dengan para ahli komputer (informatika) yang bertujuan merancang desain aplikasi dan sistem agar dapat menghasilkan produk aplikasi manajemen informasi kesehatan di rumah sakit yang lebih efektif dan efisien.

Referensi
[1] Tang PC, Hammond WE. A progress report on computerbased patient records in the United States. In Dick RS, Steen EB, Detmer DE (eds): The Computer-based Patient Record: An Essential Technology for Healthcare, 2nd ed. Washington, DC, National Academy Press, 1997, pp 1–20.
[2] Doolan, DF, Bates DW, James, BC. The Use of Computers for Clinical Care: A Case Series of Advanced U.S. Sites. J Am Med Inform Assoc. 2003;10:94–107.
[3] Coiera, E. Clarke, R. e-Consent: The Design and Implementation of Consumer Consent
Mechanisms in an Electronic Environment. J Am Med Inform Assoc. 2004;11:129–140.
[4] Shortliffe, E.H. Medical informatics meet medical education. 1995 (URL http://www-camis.stanford.edu/projects/smi-web/academics/jama-pulse.html)
[5] Shortliffe EH, Perreault, L.E., Wiederhold G, Fagan, L.M., eds. Medical Informatics: Computer Application in Health Care. Reading, MA: Addison-Wesley; 1990
[6] Greenes R.A., Shortliffe E.H. Medical informatics: An emerging academic discipline and institutional priority. JAMA 1990; 263:1115-1120
[7] Cimino, JJ. Linking Patient Information Systems to Bibliographic Resources. Meth Inform Res 1996; 35:122-6
*)disajikan dalam seminar rekam medis di Surakarta, Agustus 2005

sumber : http://megah.wordpress.com/2012/03/28/peran-teknologi-informasi-untuk-mendukung-mik-di-rumah-sakit/