Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Teknologi Pendukung di Rumah Sakit

Selain alat-alat medis, berkaitan dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang menyangkut seluruh perangkat Teknologi Informasi, berikut ini beberapa teknologi pendukung yang mungkin ada di rumah sakit di antaranya :

1. Smart Card 


Smart card merupakan sebuah alat yang digunakan dalam pencatatan kesehatan secara elektronik dengan penggunaannya yang lebih efisien dan aman, data yang mudah diakses, fasilitas lebih mengarah pada proses implementasi yang sangat luas dirumah sakit.

Sistem ini kemudian trus dikembangkan dan lebih dikenal dengan sebutan sistem catatan kesehatan elektronik terpadu (IEHRS). Pada kartu, berisi tentang data pengenal pribadi dan informasi kesehatan pasien. Informasi pengenal pribadi pasien, nama pasien, tanggal lahir, jenis darah, jenis kelamin, alamat dan nomor telepon seluler disimpan dalam kartu pasien.

Sedangkan informasi kesehatan pasien yang disimpan dalam kartu adalah penyakit kronis atau penyakit penting dengan tanggal diagnosis, penggunaan obat secara permanen dengan dosis tertentu, alergi, imunisasi dengan tanggal pemberian, operasi bedah termasuk tanggal operasi, nama klinik, dan ringkasan informasi penting. Pemeriksaan terakhir pasien dan informasi resep juga disimpan dalam kartu.

Fungsi utama dari perangkat IEHRS adalah untuk beroperasi sebagai perangkat medispra –screening atau diagnostik. Tahap pertama daftar empat jenis data medis harus diukur dengan perangkat. Tekanan darah, glukosa darah, Pulse Oxymeter dan klinis analyzer. Dalam tahap kedua dari sistem komputer pribadi membaca data dari perangkat medis ini dan menyimpannya dalam database pasien tertentu. Dalam tahap ketiga data yang disimpan akan ditransfer ke Smart Card.

2. Barcode / QR Code
Barcode dalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin Sebenarnya, kode batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan spasi garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang atau simbologi linear atau 1D (1 dimensi). Tetapi juga memiliki bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk geometri lainnya di dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2D (2 dimensi). Selain tak ada garis, sistem 2D sering juga disebut sebagai kode batang
 
QRcode merupakan singkatan dari Quick Respone code, Permata kali digunakan di industri otomotive untuk melakukan tracking terhadap komponen kendaraan.  Saat ini, penggunaan barcode dua dimensi ini sudah sangat luas, namun umumnya di pakai untuk mengkodekan alamat website, nomor contact, alamat email, nomor telepon atau sekedar teks biasa.  bentuk QR code bisa anda lihat seperti gambar disamping.

Barcode / QR Code di rumah sakit biasanya digunakan pada  gelang pasien sehingga pasien mudah dikenali dengan menggunakan alat scanner barcode/QR Code yang ada di gelang pasien.

3. Printer Thermal 
Printer Thermal adalah printer yang menggunakan elemen yang di panaskan untuk mencetak. Ada beberapa jenis thermal printer yang tersedia. Salah satu bentuk yang mungkin banyak di kenal adalah Printer digunakan pada printer terminal kartu kredit untuk mencetak tanda terima (receipt). Printer ini relatif efisien dan tidak berisik, dan tersedia dalam beberapa ukuran sesuai kebutuhan pencetakan yang berbeda. Toko atau gudang logistik yang men-stok barang biasanya menggunakan printer ini.

Sebuah Printer thermal menggunakan "panas" sebagai Print Head yang berhubungan langsung dengan pin yang ber-ukuran kecil untuk menghasilkan cetakan di atas kertas thermal. Pin yang dipanaskan dalam pola selektif mengaktifkan secara kimiawi diatas kertas untuk membuat sebuah desain gambar.  Printer thermal umumnya mencetak warna hitam, meskipun kadang-kadang bisa juga dipakai untuk mencetak warna.

Printer Thermal menggunakan panas untuk men-transfer ke pita wax (seperti lilin) yang terjepit di antara print head dan bahan yang dicetak di atas. Panas melelehkan wax/lilin, dan langsung di transfer serta mendinginkan secara langsung menjadi sebuah gambar produk cetak. Seringkali printer ini digunakan untuk tanda tag plastik dengan barcode.

Pemanfaatan printer thermal ini juga digunakan sebagai pencetak gelang pasien yang ada di rumah sakit. Keuntungan dari penggunaan printer thermal untuk gelang pasien adalah cetakannya tidak luntur, ketimbang menggunakan printer biasa. Apabila menggunakan gelang pasien biasa, maka tidak bisa tercetak identitas pasien.

4.  Finger Print Reader / Pembaca Sidik Jari 
Sidik jari, dalam bahasa Inggris disebut Fingerprint biasanya berbentuk garis-garis horizontal dan vertical atau gabungan keduanya dan juga ada bentuk lengkungan-lengkungan. Seluruh manusia di dunia diciptakan dengan sidik jari yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu, sidik jari digunakan untuk mengidentifikasi setiap manusia. Untuk membaca sidik jari tersebut, diperlukan alat yang disebut fingerprint reader. Di rumah sakit, finger print reader digunakan sebagai sarana presensi / kehadiran karyawan. Keuntungan Penggunaan Finger Print Reader ini adalah tidak akan terjadi titip absen pada karyawan.

5. Mesin Antrian
Mesin antrian yang dalam istilah asing disebut juga Queue System. Merupakan suatu perangkat mesin antrian yang penting dengan fungsi sederhana. Yaitu mengatur antrian yang terjadi akibat semakin banyaknya pelanggan suatu perusahaan. Dengan pengaturan tersebut diharapkan meningkatnya kinerja perusahaan tersebut. Perangkat yang penting karena saat berada dalam antrian pelanggan menunggu untuk dipanggil. Dan menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Karena itu mesin antrian diperlukan agar tidak terjadi keluhan dari pelanggan. Penggunaannya di rumah sakit, biasanya diletakkan di bagian pendaftaran, Poliklinik, Radiologi, Laboratorium dan Farmasi agar tidak terjadi penumpukan pasien.Mesin antrian bisa digantikan dengan aplikasi komputer yang dibuat sendiri.


Sabtu, 22 November 2014

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)

Di level manapun didalam organisasi pasti ada keputusan yang harus diambil. Keputusan yang baik selalu mengadalkan informasi yang akurat, tepat dan terkini. Tanpa Informasi tersebut pengambilan keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi atau perasahaan. Sayangnya untuk mendapatkan informasi yang berkualitas tersebut tidak mudah. Disinilah terlihat jelas peran sebuah sistem yang mampu menghasilkan informasi pada sebuah organisasi. Kalau organisasinya sebuah rumah sakit, kita sebut saja sistem itu adalah Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS).
Solusi yang dijanjikan SIMRS
Banyak solusi yang dijanjikaan oleh SIMRS yang berbasis Tenologi Informasi, diantaranya ;
 Untuk Rumah Sakit :
-      Meningkatkan pelayanan diagnosis dan pengobatan.
-      Memberikan informasi yang presisi dan cepat untuk mengambil keputusan.
-      Meningkatkan efektifitas SDM dan menurunkan beban kerja.
Untuk Dokter :
-      Efisiensi manajemen utilisasi informasi klinikal
-      Tersedianya database untuk pendidikan dan penelitian
-      Membantu mengambil keputusan klinik
-      Meningkatkan proses medik melalui menurunan catatan  dan jam kerja.
-      Meningkatkan perbandingan nurse
Untuk Pasien :
-      Menurunkan waktu tunggu untuk diagnosis dan pengobatan (Registrasi, Pengobatan, Medication, Diagnosis & dll)
-      Meningkatkan kepercayaan pengobatan dan biaya yang ditimbulkan.
-      Pelayanan Klinikal yang lebih baik.
Masalah yang ditimbulkan SIMRS
Janji manis yang ditawarkan SIMRS ternyata banyak menimbulkan masalah. Masalahnya adalah kegagalan dalam membangun dan mengembangkan SIMRS itu sendiri. Dari pengamatan para konsultan IT yang bergerak di bidang SIMRS di Indonesia tidak kurang dari 7 Rumah Sakit baik Negeri maupun suwasta mengalami kegagalan dalam membangun dan mengembangkan SIMRS.
Selain itu ada juga beberapa Rumah Sakit melakukan Outsourcing  SIRS, akibatnya biaya yang ditimbulkan setiap bulan menjadi masalah (Rp.150 juta hingga Rp.200 Juta per bulan). Outsourcing SIMRS akan  menimbulkan ketergantungan yang besar, ini disebabkan didalam SIMRS terdapat proses bisnis. Berbeda dengan kegiatan yang tidak melibatkan proses bisnis, misalnya cleaning service atau satpam.
Pengalaman Pengembang & Faktor Pemeliharaan Aplikasi Mengurangi Kegagalan SIMRS
SIMRS bukan hanya sekedar teknologi informasi, didalamnya terdapat sub-sub sistem lain seperti Prosedur, SDM dan lain-lain. Pengalaman pegembang SIMRS sangat berperan dalam menentukan keberhasilan SIMRS. Hal ini karena Rumah Sakit adalah organisasi yang komplek. Setelah faktor pengembang ada faktor lain yaitu pemeliharaan aplikasi, pemeliharaan aplikasi berbeda dengan pemeliharaan hardware. Pemeliharaan aplikasi merupakan pengembangan yang tiada pernah henti. Kalau pemeliharaan ini diserahkan ke vendor maka akan membuat ketergantungan pada vendor, sudah tentu cost yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Karena itu rumah sakit harus memiliki SDM SIMRS sendiri yang terlatih dan memahami semua kegiatan yang ada di rumah sakit.

Sumber : http://hermanzacharias.wordpress.com/2012/06/27/pengembangan-sistem-informasi-rumah-sakit-simrs/

Jumat, 21 November 2014

Sistem Informasi Manajemen Obat (SIMO)

SIMO adalah suatu tatanan manusia/peralatan yang menyediakan informasi yang membantu proses manajemen pengelolaan obat. Pengelolaan perbekalan kefarmasian ini biasanya terintegrasi dalam system jaringan teknologi informasi yang didukung oleh piranti lunak atau pemprograman khusus ( soffware ). SIMO dilatarbelakangi oleh perubahan sistem pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan ke arah keterpaduan yang berlandaskan prinsip supply chain management maka diperlukan sistem benchmarking yang berguna dalam menganalisis kinerja berdasarkan indikator – indikator yang ada dan melakukan perbandingan. Benchmarking adalah pola pengukuran dan penilaian kinerja berdasarkan indikator, standar dan perbandingan hasil. Menjamin tersedianya obat yang bermutu dengan jenis dan jumlah yang tepat, tersebar secara merata dan teratur, sehingga akan mempercepat pelayanan kesehatan yang tepat waktu serta memudahkan masyarakat yang membutuhkan. Informasi yang optimal yang diharapkan dari SIMO terdiri dari informasi dasar berbasis masyarakat (community based information)dan informasi dasar berbasis fasilitas pelayanan (facility based information). Pengembangan penggunaan Sistem Informasi dan Manajemen Obat ( SIMO ) sangat dipengaruhi oleh prioritas program dan kegiatan, administrasi yang valid dan akurat, kemampuan sumber daya manusia ( SDM ) yang ada, ketersediaan alokasi dana yang berkesinambungan, dan perangkat teknologi dan sistem jaringan yang memadai. Manfaat SIMO adalah cepatnya pelayanan, akuratnya tindakan yang diterima, mudahnya mendapatkan informasi, kemudahan dan kesederhanaan proses-proses administrasi, perencanaan menjadi terorganisir rapi, memudahkan proses monitoring dan evaluasi, mempermudah dalam proses pengambilan keputusan/kebijakan.

Sumber : http://srisugianto.blogspot.com/

Kamis, 20 November 2014

Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi Rumah Sakit

Kesejahteraan kesehatan merupakan salah satu syarat dasar untuk mencapai keunggulan kompetitif suatu bangsa. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan merupakan ujung tombak tercapainya kesejahteraan kesehatan. Meskipun tujuan utama rumah sakit tidak diorientasikan pada laba, tapi rumah sakit tetap membutuhkan tatakelola yang baik (good governance). Hal tersebut akan mendorong rumah sakit dalam peningkatan kinerjanya secara komprehensif.

Untuk rumah sakit swasta, tata kelola secara baik dan benar  telah  menjadi kebutuhan untuk dapat terus bertahan dan berkembang. Sementara bagi rumah sakit pemerintah dukungan terhadap tata kelola rumah sakit yang baik dinyatakan melalui Undang-undang No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. Dalam Undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa instansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat melakukan pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas. Prinsip-prinsip pokok dalam Undang-Undang tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi instansi pemerintah untuk menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum.
Fleksibilitas pengelolaan keuangan, mendorong rumah sakit pemerintah berubah menjadi Badan layanan Umum. Pemilihan bentuk sebagai Badan Layanan Umum mempunyai konsekuensi pada akuntabilitas dan auditabilitas. Selain itu, sebagai Badan Layanan Umum, rumah sakit harus bersedia untuk melakukan pengelolaan berdasarkan praktek bisnis yang sehat.

Untuk meningkatkan akuntabilitas dan auditabilitas sebagai Badan Layanan Umum, rumah sakit membutuhkan dukungan sistem informasi akuntansi.

Billing system merupakan bagian dari sistem informasi akuntansi yang komprehensif.
yang berujung pada laporan keuangan secara lengkap. Melalui pengembangan sistem informasi akuntansi secara lengkap, diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam; (1) memproses setiap transaksi pelayanan dan kegiatan lainnya,menjadi informasi keuangan untuk tujuan pelaporan ;(2) meningkatkan akuntabilitas dan auditabilitas rumah sakit;(3) menjamin bahwa setiap prosedur diimplementasikan secara efektif dan efisien;(4) menjamin terciptanya pengendalian intern (5) menyediakan data yang akurat dan relevan untuk pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah organisasi berbasis informasi.

Sistem Informasi Akuntansi
Sistem informasi Akuntansi merupakan sistem untuk mengidentifikasi, mengumpulkan dan mencatat peristiwa atau transaksi ekonomi dalam organisasi dan menyajikannya dalam bentuk informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Sistem informasi Akuntansi rumah sakit dikembangkan berdasarkan siklus-siklus transaksi utama di rumah sakit, yaitu siklus pendapatan, siklus pengeluaran, siklus pelayanan, siklus keuangan dan siklus pelaporan keuangan.
Pengembangan sistem informasi akuntansi rumah sakit tidak dapat dilepaskan dari standar akuntansi yang berlaku dan kebijakan keuangan yang digunakan pada organisasi rumah sakit. Oleh karena itu, standar akuntansi yang berlaku dan kebijakan keuangan rumah sakit menjadi dasar pijakan pengembangan sistem akuntansi rumah sakit melalui pengembangan prosedur operasi standar. Contoh pengembangan prosedur operasi standar pada rumah sakit meliputi:
  • Penerimaan dan Penagihan
  • Pengadaan Barang/ Jasa
  • Pengupahan
  • Pengelolaan Persediaan
  • Pengelolaan Aset Tetap
  • Pengelolaan Kas
  • Pelaporan Keuangan
  • Pengendalian Internal
sumber : http://manajemenrumahsakit.net/2012/07/sistem-informasi-akuntansi/ (dengan perubahan)

Selasa, 18 November 2014

Sistem Informasi Manajemen ICU

Ini tentu menjadi loncatan ide dari rangkaian edisi Sistem Informasi Keperawatan milik kami. Dengan desain database yang lebih rapih, tampilan yang lebih keren tapi tetap friendly dan mengakomodasi rekam medis khusus ICU, tentu menjadi sebuah modul yang cukup mengagumkan, setidaknya bagi pemiliknya.
Menu dokumentasi asuhan keperawatan dengan pendekatan SNL tentu tetap menjadi unggulan di Sistem Informasi Manajemen ICU, walaupun varian database lebih spesifik untuk pasien kritis.
Menu balance cairan yang terekam selama 24 jam, grafik suhu tubuh, pemberian therapi, manajemen cairan, monitor EKG, Respirasi, Tekanan Darah, catatan dokter dll merupakan menu pelengkap yang tidak kalah pentingnya.
Mimpi “digital instalation” mungkin akan terwujud, bila perubahan sub kegiatan dalam mata anggaran Pengembangan SIM RS yang ada di RAB 2010 disetujui direktur.
Yang terbayang di benak saya adalah, perawat dan dokter di ICU akan menuliskan semua rekaman kesehatan pasien dengan menggunakan Tablet PC, yang terkoneksi ke jaringan dengan menggunakan Wifi. Dengan kelebihan teknologi Touch Screen pada Tablet PC, mudah mudahan akan membangkitkan semangat baru untuk segera beralih secara total kepada era digital di rumah sakit. Walau baru satu unit ICU.

sumber : http://nursinginformatic.wordpress.com/2010/03/28/sistem-informasi-manajemen-icu/#more-919

Sistem Informasi Kebidanan

Kita semua paham, sampai saat ini Bidan masih menjadi andalan pemerintah, mengingat indikator kesehatan masyarakat dalam mortalitas adalah angka kematian bayi, angka kematian balita dan angka kematian ibu melahirkan. Artinya bidan adalah profesi yang sangat erat dengan indikator itu.

Dan laporan laporan itu semua musti terakomodasi dalam SI Kebidanan, sehingga kami mengklasifikasikannya menjadi dua modul yaitu Modul Asuhan Kebidanan berbasis IT dan Modul Manajemen Kebidanan. Dalam Asuhan Kebidanan tidak ada yang istimewa, karena hampir sama dengan Asuhan Keperawatan yang melingkupi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Sementara Manajemen Kebidanan, banyak hal yang diakomodasi, diantaranya partograf, laporan jumlah persalinan, angka kematian ibu, angka kematian bayi dll

Tapi dengan Sistem Informasi Kebidanan ini, diyakini pekerjaan administrasi yang cukup memakan waktu sudah tidak menjadi beban lagi, karena seluruh laporan dibuat otomatis. Per minggu, per bulan atau per tahun tidak menjadi masalah lagi.

Bahkan dipastikan, Sistem Informasi Kebidanan ini akan menaikan pendapatan RS berkisar 10-20 juta/per bulan dari profesi kebidanan, mengingat tindakan keperawatan yang dilakukan oleh bidan selama ini tidak terakomodasi dalam Billing System RS, karena tindakan tindakan itu telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Keperawatan. Sehingga hanya dengan SI Keperawatan itulah Billing bisa mengakses data yang diinputkan. Selama Bidan belum mengintegrasikan dokumen asuhan kebidanan yang dimiliki dengan berbasis IT, maka tindakan perawatan yang dilakukan leh teman teman tidak terakomodasi. Sementara menggunakan Asuhan keperawatan tidak memungkinkan untuk mereka.

Maka SI Kebidanan adalah jalan keluar terbaik, walaupun masih auh dari ideal untuk sebuah system.
Agar menjadi ideal, kami membutuhkan Standar Bahasa Kebidanan yang terdiri dari :
1. Daftar Nomenclatur Diagnosa Kebidanan
2. Daftar Klasifikasi  Tindakan Kebidanan
3. Daftar Klasifikasi Outcome Kebidanan
Bila ini didapatkan maka SI Kebidanan akan menjadi sesuatu yang sangat baik, seperti Asuhan Keperawatan dan Asuhan Gizi Klinik.

sumber : http://nursinginformatic.wordpress.com/2010/04/23/sistem-informasi-kebidanan/#more-947

6 (Enam) Faktor Kegagalan Implementasi Sistem Informasi RS

SIMARS (Sistem Informasi Manajemen Administrasi Rumah Sakit) adalah suatu keharusan bagi sebuah rumah sakit yang mau melakukan efisiensi, dengan dasar inilah maka salah satu syarat untuk sebuah rumah sakit menjadi BLU adalah implementasi/penggunaan SIMARS. Karena dengan SIMARS inilah proses-proses yang awalnya dikerjakan secara manual kemudian dikerjakan oleh mesin/komputer.

Suatu rumah sakit yang menjadi BLU dengan ‘otonominya’ diharuskan mampu mengelola bisnisnya secara efisien sehingga mampu membiayai sendiri kebutuhan operasionalnya, tanpa mengandalkan subsidi pemerintah. Tetapi seringkali proses Implementasi SIMARS di sebuah Rumah Sakit pemerintah seringkali mengalami kegagalan. Di antara faktor-faktor kegagalan tersebut adalah :

Hardware dan Jaringan

  • Hardware sering macet dan lambat, sehingga user tidak sabar dan melakukan reset.
  • Jaringan tidak baik, terjadi kehilangan data (database loss)
  • Hardware kurang, sehingga user berebut dan tidak efisien.
Program
  • Kesalahan logika program
  • Tidak User Friendly, menyulitkan pengguna
  • Kurang fasilitas, banyak masalah masih manual, sehingga pelacakan data memerlukan waktu panjang
Data
  • Data tidak lengkap, akan mengganggu jadwal
  • Data tidak akurat, reporting tidak sesuai.
Managemen
  • Tidak ada dukungan manajemen, akibatnya implementasi berjalan tidak efektif dan tidak efisien.
User
  • User tidak mampu, tidak menguasai bidang yang dikerjakan.
  • User tidak mau memakai, dengan alasan pribadi.
  • User tidak mau tahu, bertahan dengan sistem lama (resistant to change)
Trainer
  • Trainer tidak menguasai materi.
  • Trainer terlalu dekat dengan user, sehingga terjadi pergeseran jadwal.
  • Trainer kurang bijaksana, user antipati
    sumber : http://vdegroup.blogspot.com/2008/04/6-enam-faktor-kegagalan-implementasi.html

Perlunya Sistem Informasi di Rumah Sakit

Teknologi yang semakin maju dan pesat membuat system informasi rumah sakit perlu untuk mengikuti arus dan menerapkan teknologi canggih, sistem data cepat saji diperlukan untuk mendukung jalannya rekam medis (medical Record) pasien. 

Kecepatan, ketepatan dan keakuratan data diperlukan untuk membuat pelayanan rumah sakit dikatakan bermutu dan berkwalitas.
Untuk mendukung jalannya data rumah sakit diperlukan hardware dan software pendukung untuk mendukung sistem online per unit penunjang, mulai dari penerimaan pasien hingga administrasi pasien pulang.
kecepatan, ketepatan dan keakuratan dalam pembuatan data sosial, diagnosa, tindakan dan administrasi pasien berpengaruh pada pelayanan terhadap pasien, keluarga pasien. karena berdasar angket : kecepatan dalam administrasi pasien pulang menempati urutan teratas dalam angket yang disebarkan di satu rumah sakit dikota malang sementara faktor dokter, lokasi, dan perawat berada dibawahnya.

Jadi sistem informasi yang cepat dan tepat diperlukan didalam Teknologi berbasis komputerisedi Rumah Sakit. 

Sumber : http://indrayonatan.wordpress.com/2008/07/25/perlunya-sistem-informasi-rs/a
ada akhir tahun 1980-an memunculkan mikro-komputer yang berkekuatan besar sekali dan perangkat lunak untuk pengetahuan keperawatan seperti sistem informasi manajemen keperawatan (SIMK). Sistem Informasi Rumah Sakit Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Komputer telah dikenal sekitar lima puluh tahun yang lalu, tetapi rumah sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Saat ini hampir setiap rumah sakit menggunakan jasa komputer, setidaknya untuk manajemen keuangan. Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan komputer oleh perawat pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an mencakup : 1. Automatisasi catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien. 2. Penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf. Pada pertengahan tahun 1970-an, ide dari sistem informasi rumah sakit (SIR) diterapkan, dan perawat mulai merasakan manfaat dari sistem informasi manajemen. Pada akhir tahun 1980-an memunculkan mikro-komputer yang berkekuatan besar sekali dan perangkat lunak untuk pengetahuan keperawatan seperti sistem informasi manajemen keperawatan (SIMK). Sistem Informasi Rumah Sakit (SIR) Sistem informasi rumah sakit (SIR) sangat luas, desain sistem komputer yang komplek untuk menolong komunikasi dan mengatur informasi yang dibutuhkan dari sebuah rumah sakit. Sebuah SIR akan diaplikasikan untuk perijinan, catatan medis, akuntansi, kantor, perawatan, laboratorium, radiologi, farmasi, pusat supali, mutrisi/pelayanan makan, personel dan gaji. Jumlah aplikasi-aplikasi lain dapat dimasukkan bagi beberapa bagian/departemen dan untuk beberapa tujuan yang praktikal. Manajer-manajer perawat perlu mengenal komputer, yang mencakup mengenal istilah umum yang digunakan komputer. Pada masa depan dapat diharapkan bahwa semua pekerjaan perawat akan dipengaruhi oleh komputer, dan beberapa posisi baru akan dikembangkan bagi perawat-perawat di bidang komputer. Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit Sistem informasi rumah sakit adalah suatu tatanan yang berurusan dengan pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisa dan penyimpulaninformasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan rumah sakit. Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Komputer telah dikenal sekitar lima puluh tahun yang lalu, tetapi rumah sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Saat ini hampir setiap rumah sakit menggunakan jasa komputer, setidaknya untuk manajemen keuangan. Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan komputer oleh perawat pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an mencakup : 1. Automatisasi catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien. 2. Penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf. Pada pertengahan tahun 1970-an, ide dari sistem informasi rumah sakit (SIR) diterapkan, dan perawat mulai merasakan manfaat dari sistem informasi manajemen. Pada akhir tahun 1980-an memunculkan mikro-komputer yang berkekuatan besar sekali dan perangkat lunak untuk pengetahuan keperawatan seperti sistem informasi manajemen keperawatan (SIMK). Sistem Informasi Rumah Sakit (SIR) Sistem informasi rumah sakit (SIR) sangat luas, desain sistem komputer yang komplek untuk menolong komunikasi dan mengatur informasi yang dibutuhkan dari sebuah rumah sakit. Sebuah SIR akan diaplikasikan untuk perijinan, catatan medis, akuntansi, kantor, perawatan, laboratorium, radiologi, farmasi, pusat supali, mutrisi/pelayanan makan, personel dan gaji. Jumlah aplikasi-aplikasi lain dapat dimasukkan bagi beberapa bagian/departemen dan untuk beberapa tujuan yang praktikal. Manajer-manajer perawat perlu mengenal komputer, yang mencakup mengenal istilah umum yang digunakan komputer. Pada masa depan dapat diharapkan bahwa semua pekerjaan perawat akan dipengaruhi oleh komputer, dan beberapa posisi baru akan dikembangkan bagi perawat-perawat di bidang komputer. Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit Sistem informasi rumah sakit adalah suatu tatanan yang berurusan dengan pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi, analisa dan penyimpulaninformasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan rumah sakit. Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Implementasi Sistem Informasi Klinik menurut Kebutuhan Dokter

Banyak aplikasi sistem informasi klinik dan computerized physician order entry (CPOE) yang telah diimplementasikan dan terintegrasi dengan sistem pembayaran maupun administrasi sehingga mampu menunjang sistem bisnis klinik/rumah sakit sesuai yang diharapkan. Beberapa diantaranya mungkin masih menemui kegagalan dan perlu dilakukan evaluasi ulang.
Kunci sukses implementasi sistem informasi klinik diantaranya adalah memahami kebutuhan staf klinik dan mengerti strategi pengembangan sehingga mampu menjembatani adopsi dan pemanfaatan suatu teknologi baru (Hobbs).
Penerapan komputerisasi klinik mungkin mudah bagi dokter yang berusia lebih muda. Tetapi bagaimana dengan para dokter senior yang telah terbiasa dan nyaman dengan sistem berbasis kertas. Hal ini tentu memerlukan perhatian tersendiri.
Dengan harapan mengurangi kesalahan medis, menekan biaya, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, beberapa pusat pelayanan kesehatan di Amerika Serikat mulai mengimplementasikan rekam medis elektronik.
Pengalaman Cedars-Sinai Medical Center, LA, California (Shabot, 2004) memberikan 10 pelajaran penting:

1. Kecepatan adalah segalanya
Tidak peduli indahnya desain, fitur, saran, atau sistem peringatan (alerts), yang lebih penting adalah kecepatan (waktu respon). Sehingga masih banyak sistem yang berjalan dengan DOS (berbasis teks).

2. Para dokter mengabaikan sistem peringatan
Padahal sistem peringatan dapat mengurangi medical error, tetapi karena kebutuhan akan kecepatan akses lebih diutamakan, maka sistem peringatan (misalnya peringatan akan adanya interaksi obat) cenderung diabaikan oleh dokter. Sistem peringatan ini masih digunakan oleh kalangan farmasi.

3. Memberikan informasi saat dibutuhkan
Dengan didukung sistem peringatan, informasi benar-benar disampaikan sesuai kebutuhan pengguna berupa pengingat singkat (reminder) tapi tetap menyertakan tautan (link) untuk informasi yang lebih lengkap.

4. Sesuai dengan alur kerja pengguna
Bukan hanya komputerisasi, tetapi mampu lebih dari itu. Para pengembang sebaiknya menyadari, kadang komputerisasi juga memperlambat proses. Jadi, sesuaikan dengan proses dan alur kerja yang ada. Sistem berbasis web Cedars-Sinai menampilkan data pasien terbaru dengan tautan ke laporan konsultasi, hasil radiologi, dan analisis gas rutin. Informasi dapat dioptimalisasi untuk menghemat waktu akses.

5. Respek terhadap otonomi dokter
Di tengah kesibukannya sehari-hari, para dokter dihadapkan pada suatu sistem informasi klinik yang baru, dan kadang bertentangan dengan otonomi praktiknya. Hal ini sering terjadi pada para dokter senior yang berusia lanjut. Otonomi ini berhubungan dengan adanya sistem peringatan komputer jika terjadi interaksi obat. Hal ini juga dianggap menghambat proses dan membuang waktu. Peresepan manual berbasis kertas dianggap lebih baik. Tetapi semuanya harus dilakukan demi kebaikan pasien dan dokter.

6. Pengawasan implementasi secara nyata dan respon dilakukan dengan segera
Tantangan terberat adalah manajemen perubahan pada manusianya. Implementasi sistem informasi klinik yang baru membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Biaya implementasi/pelatihan kadang lebih mahal dari harga perangkat keras dan lunak itu sendiri. Implementasi sebaiknya dituntaskan pada suatu unit, sambil mencari masukan untuk membentuk sistem baru menjadi lebih baik.

7. Hati-hati terhadap konsekuensi yang tidak diharapkan
Prosedural medikasi yang ditanamkan pada suatu sistem kadang terlalu detil sehingga dapat melelahkan (terutama) para perawat. Konsekuensi ini baiknya disesuaikan dengan prosedur manual yang ada dan dibicarakan dengan tim dokter.

8. Waspada akan kekurangan proses jangka panjang yang belum teratasi
Tidak semuanya dapat tergantikan oeh sistem. Saat proses registrasi memerlukan waktu tertentu sementara pasien harus segera diambil tindakan (masalah proses), dokter akan memesan perlengkapan medikasi dengan menggunakan nama sementara, tentu saja dengan tulisan tangan. Proses ini tidak tergantikan oleh komputer.

9. Jangan mengacaukan “magic nursing glue“
Sebelum komputerisasi, para perawat sering membantu tugas dokter dengan melengkapi status pasien yang belum lengkap, sehingga memudahkan pasien untuk pindah tahap perawatan selanjutnya. Dengan komputerisasi, proses ini menjadi terlalu detil dan spesifik. Sistem informasi klinik dapat mengganggu peran perawat.

10. Kecepatan adalah segalanya
Kembali, kecepatan adalah segalanya bagi pengguna klinik di tengah kesibukan masing-masing.
Kesuksesan implementasi sistem informasi klinik yang baru ditentukan oleh pemimpin yang baik dan pengikut yang baik pula.

sumber : http://daniiswara.wordpress.com/2006/10/06/health-informatics-implementasi-sistem-informasi-klinik-menurut-kebutuhan-dokter/