Tampilkan postingan dengan label Rumah Sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Sakit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Tips : Bagaimana Memilih SIM Rumah Sakit yang Handal

Memilih aplikasi untuk rumah sakit (SIM RS) ternyata memerlukan kehati-hatian, karena memang di pasaran tersedia banyak sekali, dari yang berharga murah dan bahkan bisa menyicil hingga berharga milyaran.. Oleh karena itu, memilih software SIMRS tidaklah mudah, banyak parameters yang harus diperhatikan agar tidak kecewa karena investasinya pasti mahal. Berikut adalah beberapa tips yang diambil dari berbagai sumber bagaimana memilih SIMRS yang baik :
  1. Pastikan si pengembang sudah berpengalaman minimal implementasi 2 rumah sakit atau lebih.
  2. Pastikan si pengembang bisa mempresentasikan software SIMRSnya yang bisa ngelink
  3. Pastikan SIMRS mendukung multi tarif karena setiap rumah sakit pasti mempunyai multi tarif.
  4. Untuk Farmasi pastikan ada modul pembelian, penjualan, inventory multi gudang, dan pastikan pula SIMRS bisa menentukan multi margin obat dan alkes.
  5. Untuk bagian Marketing pastikan SIMRS bisa membatasi obat yang di-Cover asuransi atau tidak, bisa mengatur tarif sesuai kontrak dengan asuransi, serta multi administrasi.
  6. Pastikan laporan-laporan sudah cukup lengkap.
  7. Pastikan SIMRS support dengan laporan DEPKES RL1-RL6.
  8. Terjaminnya Implementasi Sampai Jalan.
 Berikut beberapa tips guna memilih aplikasi SIMRS yang tepat sehingga investasi, konsumsi waktu dan tenaga tidak sia-sia.
  1. Client Listed, jika vendor telah memiliki beberapa daftar klien yang telah menggunakan aplikasi SIMRS, ini bisa menjadi acuan sebelum menentukan untuk memilih vendor SIMRS.
  2. Ready to Use, pastikan aplikasi SIMRS telah siap pakai dan dapat dikustomisasi selanjutnya jika ada beberapa penambahan maupun pengembangan SIMRS
  3. Demo Screen, pada saat vendor melakukan presentasi, tanyakan juga kepada vendor untuk melakukan demo. Demo tersebut dapat di mulai dari yang sederhana seperti pendaftaran, konsul dokter, pemberian tindakan baik tindakan penunjang medis maupun tindakan medis lainnya. lalu pemberian obat dari apotik kemudian lihat dan cocokan jumlah tagihan pasien.
  4. Staying Power, pastikan vendor SIMRS telah berdiri sedikitnya 5(lima) tahun. lima tahun merupakan waktu yang cukup baik untuk vendor dalam memberikan layanan purna jual, pengembangan yang berkelanjutan, pemahaman akan aplikasi SIMRS semakin matang serta eksistensi vendor tersebut. jangan sampai anda membeli aplikasi SIMRS setelah tahun kedua vendor tersebut telah tutup
  5. Trial Version, jika memungkinkan, minta vendor untuk memberikan trial minimal 3(tiga) bulan. memang diperlukan biaya implementasi khusus pada periode trial, setidaknya meyakinkan anda sebelum memutuskan akan memilih vendor SIMRS.
Kesimpulan:
Ada banyak vendor SIMRS di indonesia, baik yang berasal dari luar negeri maupun lokal tidak  menjamin bahwa aplikasi yang mereka tawarkan adalah yang terbaik. Harga Aplikasi, baik yang mulai dari 75jutaan ± 3 Miliar semuanya memberikan fungsi dasar yang sama. Yang membedakan adalah beberapa fitur tambahan, proses implementasi, kustomisasi, layanan teknis, dan lainnya.


sumber : http://rsud.rejanglebongkab.go.id/tips-bagaimana-memilih-sim-rumah-sakit-yang-handal/

Peran SIM di Rumah Sakit

Manajemen adalah suatu rentetan langkah yang terpadu yang mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomis-teknis. Sosio berarti menunjukkan peran penting manusia dalam menggerakkan seluruh sistem organisasi. Ekonomi berarti kegiatan dalam sistem organisasi ini bertujuan memenuhi kebutuhan hakiki manusia. Teknis berarti dalm kegiatan ini digunakan alat dan cara tertentu secara sistematis (Kadarman dan Udaya 1993).
 Difinisi rumah sakit ialah institusi (fasilitas) yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap. American Hospital Association di tahun 1978 menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya ialah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan, baik yang bersifat bedah maupun non bedah.
Sumarni dan Suprihanto (1993) menyatakan bahwa SIM (Sistem Informasi Manajemen) adalah sistem manusia atau mesin yang terpadu, untuk menyajikan informasi, guna mendukung fungsi operasi manajemen dan pengambilan keputusan dalam suatu organisasi.
Pelayanan rumah sakit mengandalkan informasi secara intensif. Informasi memainkan peranan vital dalam pengambilan keputusan. Sistem informasi dapat digunakan sebagai sarana strategis untuk memberikan pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan. Pelanggan rumah sakit dapat berupa pelanggan internal dan juga eksternal. Pelanggan internal adalah pemilik, pemimpin dan seluruh karyawan rumah sakit itu sendiri. Pelanggan eksternal dapat mulai pasien, keluarganya, rekanan pemasok dan juga masyarakat luas. Hario Kusnanto dalam makalahnya yang disampaikan pada Kongres PERSI VII 1996 menyatakan bahwa sistem informasi rumah sakit amat berperan dalam memadukan berbagai kepentingan dari berbagai pelanggan rumah sakit. SIM (Sistem Informasi Manajemen) rumah sakit dapat berfungsi memadukan kepentingan pelanggan dalam derap bersama mencapai visi dan misi rumah sakit. Informasi merupakan sarana potensial untuk memberdayakan pelanggan internal dan eksternal suatu rumah sakit.
Rowland dan Rowland (1984 ) menyebutkan bahwa peran SIM dirumah sakit dapat pada funsi medikal maupun pada fungsi bisnis. Untuk setiap fungsi, SIM dapat berperan baik dalam sistem transaksi, perencanaan operaional, sistem pengawasan serta perencanaan strstegis. Dengan bahasa yang agak berbeda, J.R. Griffith juga mengemukakan bahwa perkembangan SIM di rumah sakit dapat mencakup care related system dan management related system.
Bambang Hartono menyampaikan bahwa belum banyak dijumpai informasi tentang mutu pelayanan rumah sakit di negara kita. Hal ini terjadi karena di rumah sakit ternyata masih kurang diperhatikan konsep mutu itu sendiri, masih kurang seriusnya pengelolaan sistem informasi manajemen serta belum banyaknya dibuat standar mutu pelayanan di rumah sakit. Ada tiga pendekatan untuk mendapatkan indikator mutu pelayanan rumah sakit, yaitu pendekatan struktural, prosedural dan pendekatan dampak.
Rekam medis sebagai salah satu bentuk SIM RS berperan penting dalam peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dalam beberapa aspek, sebagai berikut : a) Aspek administratif, b) Aspek hukum, c) Aspek keuangan, d) Aspek riset dan edukasi, e) Aspek dokumentasi.
Hari Kusnanto menyampaikan beberapa alasan mengapa SIM RS belum berkembang pesat, antara lain : a) konsep ekonomi informasi kesehatan belum dirumuskan secara jelas, b) manajer belum betul – betul memahami perlunya SIM RS, c) keasingan terhadap teknologi informasi, d) kesulitan dalam menghadapi perubahan budaya dan perilaku dengan diterapkannya SIM RS, e) kurangnya saling pengertian antara klinisi, manajer dan pengelola SIM RS.
J.R. Griffith menyatakan bahwa SIM RS amat berperan dalam akuntansi manajemen dan juga audit medik. Akuntansi manajemen meliputi : a) penagihan pembayaran pasien, b) pembayaran gaji dan insentif sesuai baban kerja, c) pemesanan logistik rumah sakit, d) pengurusan dengan pihak ketiga dalam asuransi, e) perencanaan keuangan. Dalam audik medik, SIM RS amat diperlukan mengingat terjadinya tiga hal penting di rumah sakit :
  1. Teknologi kedokteran kini makin berkembang, makin kompleks, makin kuat, makin punya resiko bahaya dan makin mahal, karena itu memerlukan pengawasan yang ketat.
  2. Teknologi sistem informasi pun kian canggih sehingga memungkinkan melakukan pengawasan ketat dengan biaya yang wajar.
  3. Situasi lingkungan yang mengharuskan pelayanan kesehatan di rumah sakit dilakukan seefektif dan seefisien mungkin.
Pelayanan sistem informasi dirumah sakit tentu juga harus dinilai secara berkala. Beberapa hal yang patut dapat perhatian adalah ada tidaknya keterlambatan dalam pelayanan, bagaimana kepuasan pengguna jasa SIM RS di dalam rumah sakit itu sendiri, bagaimana pendapat konsultan luar terdapat jalannya SIM RS, beberapa besar biaya yang dihabiskan dibandingkan dengan penghematan yang didapat serta evaluasi umumnya terdapat rencana pengembangan yang ada.

Sumber : http://validconsulting.wordpress.com/2012/11/20/peran-sim-di-rumah-sakit/

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)

Di level manapun didalam organisasi pasti ada keputusan yang harus diambil. Keputusan yang baik selalu mengadalkan informasi yang akurat, tepat dan terkini. Tanpa Informasi tersebut pengambilan keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi atau perasahaan. Sayangnya untuk mendapatkan informasi yang berkualitas tersebut tidak mudah. Disinilah terlihat jelas peran sebuah sistem yang mampu menghasilkan informasi pada sebuah organisasi. Kalau organisasinya sebuah rumah sakit, kita sebut saja sistem itu adalah Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS).
Solusi yang dijanjikan SIMRS
Banyak solusi yang dijanjikaan oleh SIMRS yang berbasis Tenologi Informasi, diantaranya ;
 Untuk Rumah Sakit :
-      Meningkatkan pelayanan diagnosis dan pengobatan.
-      Memberikan informasi yang presisi dan cepat untuk mengambil keputusan.
-      Meningkatkan efektifitas SDM dan menurunkan beban kerja.
Untuk Dokter :
-      Efisiensi manajemen utilisasi informasi klinikal
-      Tersedianya database untuk pendidikan dan penelitian
-      Membantu mengambil keputusan klinik
-      Meningkatkan proses medik melalui menurunan catatan  dan jam kerja.
-      Meningkatkan perbandingan nurse
Untuk Pasien :
-      Menurunkan waktu tunggu untuk diagnosis dan pengobatan (Registrasi, Pengobatan, Medication, Diagnosis & dll)
-      Meningkatkan kepercayaan pengobatan dan biaya yang ditimbulkan.
-      Pelayanan Klinikal yang lebih baik.
Masalah yang ditimbulkan SIMRS
Janji manis yang ditawarkan SIMRS ternyata banyak menimbulkan masalah. Masalahnya adalah kegagalan dalam membangun dan mengembangkan SIMRS itu sendiri. Dari pengamatan para konsultan IT yang bergerak di bidang SIMRS di Indonesia tidak kurang dari 7 Rumah Sakit baik Negeri maupun suwasta mengalami kegagalan dalam membangun dan mengembangkan SIMRS.
Selain itu ada juga beberapa Rumah Sakit melakukan Outsourcing  SIRS, akibatnya biaya yang ditimbulkan setiap bulan menjadi masalah (Rp.150 juta hingga Rp.200 Juta per bulan). Outsourcing SIMRS akan  menimbulkan ketergantungan yang besar, ini disebabkan didalam SIMRS terdapat proses bisnis. Berbeda dengan kegiatan yang tidak melibatkan proses bisnis, misalnya cleaning service atau satpam.
Pengalaman Pengembang & Faktor Pemeliharaan Aplikasi Mengurangi Kegagalan SIMRS
SIMRS bukan hanya sekedar teknologi informasi, didalamnya terdapat sub-sub sistem lain seperti Prosedur, SDM dan lain-lain. Pengalaman pegembang SIMRS sangat berperan dalam menentukan keberhasilan SIMRS. Hal ini karena Rumah Sakit adalah organisasi yang komplek. Setelah faktor pengembang ada faktor lain yaitu pemeliharaan aplikasi, pemeliharaan aplikasi berbeda dengan pemeliharaan hardware. Pemeliharaan aplikasi merupakan pengembangan yang tiada pernah henti. Kalau pemeliharaan ini diserahkan ke vendor maka akan membuat ketergantungan pada vendor, sudah tentu cost yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Karena itu rumah sakit harus memiliki SDM SIMRS sendiri yang terlatih dan memahami semua kegiatan yang ada di rumah sakit.

Sumber : http://hermanzacharias.wordpress.com/2012/06/27/pengembangan-sistem-informasi-rumah-sakit-simrs/